Home / Berita / Kiai Arwani Kudus, Penyemai Para Penghafal Al Quran

Kiai Arwani Kudus, Penyemai Para Penghafal Al Quran

kh-m-arwani-amin

Oleh Hasyim Asy’ari*

Gema Al-Qur’an merupakan irama kehidupan sehari-hari di lingkungan Pondok Pesantren  Huffadh Yanbu’ul Qur’an (PHYQ) di Kampung Kelurahan Desa Kajeksan Kudus. Lantunan para santri yang sedang menghafalkan Al-Qur’an di Pondok Yanbu’ (demikian Pondok Pesantren ini sering disebut) nyaris tidak pernah berhenti, dan seolah tak mau ditaklukkan oleh aliran sang waktu. Kendati sudah ditinggalkan oleh pendirinya, KH Muhammad Arwani Amin, namun semangat untuk menghafal Al-Qur’an di Pondok Yanbu’ ini tidak pernah pupus sama sekali.

KH Muhammad Arwani Amin meninggal dunia pada tanggal 25 Rabi’ul Akhir 1415 H atau tepat pada tanggal 1 Oktober 1994. Kira-kira pada usia 92 tahun menurut perhitungan hijriyah (lahir tanggal 5 Rajab 1323 H) atau pada usia 89 tahun menurut perhitungan kalender umum (lahir 5 September 1905).

Kiai Arwani meninggalkan monumen yang teramat penting bagi kaum muslim Indonesia, berupa pondok penghafal Al-Qur’an. Kiai Arwani merupakan anak laki-laki dari pasangan H Amin Said dan Hj Wanifah, yang lahir di Kampung Madurekso Kerjasan, kira-kira 100 meter sebelah Selatan Masjid Menara Kudus.

Pondok pesantren di Pulau Jawa yang mengkhususkan diri sebagai tempat untuk belajar dan menghafalkan Al-Qur’an, dulu dikenal ada tiga pilar utama. Yaitu Pondok Pesantren Al- Munawwir Krapyak Yogyakarta yang diasuh oleh KH Munawwir. Kemudian Pondok Pesantren Al-Muayyad Mangkuyudan Surakarta yang diasuh oleh KH Umar. Dan yang paling muda adalah Pondok Huffadh Yanbu’ul Qur’an Kudus yang didirikan dan diasuh oleh KH Muhammad Arwani Amin. Mengapa paling muda? Karena Pondok Yanbu’ ini di antara ketiga pondok tersebut, didirikan paling akhir, dan Kiai Arwani sebelum mendirikannya adalah santri dari dan berguru pada Kiai Muhammad Munawwir Krapyak Yogyakarta.

Dalam perkembangannya, Pondok Yanbu’ menjadi satu-satunya tiang penyangga “tempat persemaian” para penghafal Al-Qur’an. Hal ini disebabkan karena dua pondok lainnya, yaitu Al-Munawwir Krapyak dan Al-Muayyad Mangkuyudan, kini tidak lagi semata-mata mengajarkan hafalan Al-Qur’an, namun juga membuka program klasikal lainnya dengan pelajaran yang beragam. Sementara Pondok Yanbu’ masih konsisten memposisikan dirinya sebagai tempat khusus untuk menghafalkan Al-Qur’an. Oleh karena itu, telah menjadi pengetahuan umum di kalangan santri penghafal Al-Qur’an, bahwa untuk ngelanyahke apalan (memperlancar hafalan) yang telah diperoleh dari pesantren lain, seorang santri semacam diwajibkan nyantri untuk beberapa waktu di Pondok Yanbu’.

Sebagaimana lazimnya tradisi pesantren, sebelum akhirnya pulang kampung dan mendirikan pondok pesantren sendiri, seorang santri akan menimba ilmu ke berbagai pesantren dan sejumlah kiai. Demikian juga Kiai Arwani menjalani tradisi yang tidak jauh berbeda. Begitu pulang dari berkelana ke berbagai pondok pesantren, Kiai Arwani mengajar Al-Qur’an, suatu bidang spesialisasi beliau, kepada warga masyarakat Kudus. Sebelum mendirikan pondok pesantren, Kiai Arwani mulai mengajarkan ilmunya di rumah dan toko kitabnya yang berada di Kauman Menara, di Masjid Kampung Kenepan Kerjasan, dan kemudian dilanjutkan di rumahnya yang berada di Kampung Kelurahan Desa Kajeksan.

Dalam buku Karisma Ulama: Kehidupan Ringkas 26 Tokoh NU (Bandung: Mizan, 1998, hlm. 43) yang dieditori Saifullah Ma’shum, suatu ketika Kiai Arwani diserahi oleh KH Asnawi untuk mengasuh pengajian yang selama ini diasuhnya di Masjid Menara. Tentang apa materi pengajian di Masjid Menara itu, H. Em. Nadjib Hassan, Ketua Pengurus Yayasan Masjid Menara dan Makam Sunan Kudus (YM3SK), menyebutkan bahwa Kiai Arwani mengasuh pengajian Kitab Tafsir Jalalain setiap malam Senin dan Kamis ba’da Maghrib, dan setiap Jum’at fajar setelah Subuh mengisi pengajian Kitab Shahih Bukhari. Kini pengajian di Masjid Menara setiap Jum’at fajar dengan membaca Kitab Tafsir Jalalain diasuh oleh KH Sya’roni Ahmadi, seorang kiai yang juga merupakan besan Kiai Arwani atas perkawinan putera keduanya KH Ulil Albab Arwani dengan Hj Zuhairah Sya’roni.

Pondok Yanbu’ yang dikenal seperti sekarang ini didirikan secara resmi oleh Kiai Arwani tahun 1393 H (1973). Nama Yanbu’ul Qur’an diambil Kiai Arwani dari sebuah petikan Al-Qur’an dalam surat Al-Isra’ ayat 90 “yanbuu’a”, yang artinya mata air. Nampaknya, dengan menamakan pondoknya dengan Yanbu’ul Qur’an, Kiai Arwani berharap agar kelak pondok ini benar-benar menjadi “mata air” bagi para penghafal Al-Qur’an.

Sepeninggal Kiai Arwani, kini Pondok Yanbu’ dikelola oleh “tiga serangkai”, yaitu KH Ulin Nuha Arwani, KH Ulil Albab Arwani, dan KH Muhammad Manshur. Dua yang pertama adalah putera Kiai Arwani, buah perkawinannya dengan Hj Naqiyul Khudh, dan yang terakhir adalah salah seorang santri kesayangan Kiai Arwani yang sudah seperti putera sendiri. Namun pada tahun 2004, KH Muhammad Manshur wafat menghadap ke hadirat Ilahi Rabbi.

Santri yang mengaji Al-Qur’an di Pondok Yanbu’ ini ada dua jenis, yaitu santri mukim dan santri kalong. Dalam dunia pesantren, santri mukim ini digunakan untuk menyebut santri yang tinggal menetap di lingkungan pesantren selama ia mencari ilmu. Kegiatan santri mukim di Pondok Yanbu’ berkisar antara bilik kamar, rumah kiai, aula pondok, dan dua masjid pondok, yaitu Busyra Al-Latif dan Qurrotu Aini. Santri mukim di Pondok Yanbu’ ini meliputi santri laki-laki dan santri perempuan.

Istilah santri kalong dipahami sebagai santri yang ikut mengaji di pesantren, namun ia tidak tinggal menetap di dalamnya, karena ia adalah warga setempat dan tinggal di daerah sekitar pesantren. Hampir semua santri penghafal Al-Qur’an di Pondok Yanbu’ adalah santri mukim. Sementara santri kalong dari daerah sekitar pondok, umumnya mereka ikut mengaji tilawah Al-Qur’an dan ilmu tajwid yang diselenggarakan di Masjid Busyra Al-Latif, masih di lingkungan Pondok Yanbu’.

Terutama bagi kalangan santri kalong, pelajaran yang diberikan oleh Kiai Arwani dan para penerusnya adalah pelajaran membaca Surat Al-Fatihah dan bacaan tahiyyat untuk shalat. Mengapa dua hal itu yang diajarkan, dan banyak warga masyarakat Kudus mengaji dua hal itu kepada Kiai Arwani? Dalam kaidah fiqh ubudiyyah (fiqh peribadatan), membaca Surat Al-Fatihah dan bacaan tahiyyat dalam shalat termasuk kategori rukun qauli. Artinya, dalam shalat yang merupakan bacaan wajib adalah dua hal itu, surat Al-Fatihah dan tahiyyat.

Oleh karena itu, bacaan dua hal itu menjadi standar sah atau tidaknya suatu shalat seorang muslim. Dengan demikian, kefasihan dan kebenaran menurut kaidah-kaidah tajwid menjadi sumber pendukung utama bagi ibadah shalat. Dan ini rupanya yang menjadi alasan, mengapa Kiai Arwani mengajarkan secara luas pelajaran membaca surat Al-Fatihah dan tahiyyat.

Dalam skripsi yang ditulis oleh Tubagus Manshur (1995), Tilawah dan Intensitas Iman Santri Pondok Huffadh Yanbu’ul Qur’an, ditunjukkan bahwa bagi kalangan santri mukim, tilawah dan tahfidh Al-Qur’an merupakan kegiatan utama. Santri mukim Pondok Yanbu’ akan menempuh tiga tingkatan dalam mempelajari Al-Qur’an. Tingkatan pertama, yaitu santri tilawah Al-Qur’an bi al-Nadlar, yaitu santri membaca Al-Qur’an dengan melihat tulisan yang ada di mushhaf, dan tingkat ini untuk santri yang masih baru. Pada tingkatan ini, santri belajar membaca Al-Qur’an dan mempelajari ilmu tajwid. Kitab yang menjadi pegangan adalah Mushhaf Al-Qur’an, ringkasan Mahraj Huruf (karya K.H. Ulil Albab Arwani), dan kitab Al-Burhan fi Tajwid Al-Qur’an.

Tingkat kedua, yaitu santri tahfidh Al-Qur’an atau tilawah Al-Qur’an bi al-ghaib, yaitu santri yang berada pada tingkatan menghafal Al-Qur’an, atau membaca Al-Qur’an tanpa dengan melihat tulisan mushhaf Al-Qur’an. Pada tingkat ini santri terbagi dalam tiga kelas, yaitu kelas 1 untuk santri yang menghafal 1-10 juz, kelas 2 untuk santri yang menghafal 1- 20 juz, dan kelas 3 untuk santri yang menghafal 1- 30 juz. Sepeninggal Kiai Arwani, bagi santri penghafal Al-Qur’an juz 1-10, setoran hafalan dilakukan kepada KH Ulil Albab Arwani, dan setoran hafalan bagi santri penghafal juz 10-30 dilakukan kepada KH Ulin Nuha Arwani. Pada tingkatan ini, selain mushhaf Al-Qur’an, kitab pegangan bagi para santri ditambah Kitab Al-Minah al-Fikriyyah.

Pada masing-masing tingkatan, evaluasi untuk menentukan kenaikan kelas dilakukan setiap bulan Rajab. Kategori kelulusan santri dilakukan dengan menilai bacaan dan hafalan para santri, dengan standar minimal kesalahan hafalan tidak boleh lebih dari 20%, dan kesalahan bacaan tajwid tidak boleh lebih dari 10%. Kalau lolos dari standar yang ditentukan, santri dapat dikategorikan lulus dan naik kelas.

Tingkat ketiga atau terakhir, diperuntukkan bagi santri yang telah lancar hafal Al-Qur’an 30 juz dan mereka bermaksud melanjutkan pelajaran qira’ah sab’ah (membaca Al-Qur’an menurut  7 imam). Untuk santri pada tingkatan ini, yang menjadi kitab pegangan mereka, selain mushhaf Al-Qur’an, adalah Kitab Faidl al-Barakat fii Sabil al-Qira’at (karya KH Muhammad Arwani Amin).

Pada hampir tiga dasawarsa terakhir ini, Pondok Yanbu’ membuka program tahfidh Al-Qur’an bagi anak-anak. Sementara ini, program dibuka bagi santri laki-laki. Para penghafal cilik ini merupakan santri mukim di Pondok Yanbu’ Desa Krandon, sebelah Utara Desa Kajeksan di mana pondok utama berada. Para santri cilik ini berada pada usia sekolah dasar, yaitu antara 6-13 tahun.

Sambil menghafal Al-Qur’an, para santri cilik ini menerima pendidikan dasar layaknya anak-anak pada usia mereka. Pendidikan dasar diselenggarakan dalam bentuk Madrasah Ibtida’iyyah Yanbu’ul Qur’an, yang ditempuh selama 6 tahun. Menurut catatan yang ada, sampai sekarang tercatat rekor anak kelas 2 Ibtida’iyyah atau berusia sekitar 8 tahun, telah mampu mengkhatamkan hafalan Al-Qur’an 30 juz.

“Persemaian” penghafal Al-Qur’an, seperti yang telah dirintis oleh Kiai Arwani, merupakan salah satu bukti dari janji Allah untuk senantiasa memelihara Al-Qur’an, sebagaimana disebutkan dalam surat Al-Hijr ayat 9, “Innaa nahnu nazzalnaa al-dzikra wa innaa lahuu lakhaafidhuun”.

Kiai Arwani selain dikenal sebagai “Kiai Qur’an”, ia dikenal juga sebagai “Kiai Tarekat”. Martin van Bruinessen (1992) dalam bukunya yang berjudul Tarekat Naqsyabandiyah di Indonesia: Survei Historis, Geografis dan Sosiologis, (Bandung: Mizan, hlm. 163-164), menyebutkan bahwa Kiai Arwani merupakan kiai tarekat yang “punya reputasi paling hebat di antara guru-guru Naqsyabandiyah di pesisir utara”, dan kemasyhurannya ini terutama karena Kiai Arwani adalah seorang kiai tarekat yang sekaligus seorang hafidh.

Kegiatan tarekat yang diasuh oleh Kiai Arwani dilaksanakan di luar pondok utama, tepatnya berada di Kampung Kuwanaran. Setiap hari Selasa di sana berlangsung tawajjuh (pertemuan dzikir berjamaah), yang setiap pelaksanaannya dihadiri sekitar 1.000-1.500 orang. Selain itu juga dilaksanakan khalwat (suluk) tiga kali setahun, dalam bulan-bulan yang dipandang suci: Muharram, Rajab dan Ramadlan. Karena jumlah peserta dibatasi hanya untuk 1.200 orang, dan jumlah peminat cukup tinggi, biasanya khalwat untuk bulan Rajab diadakan dua kali berturut-turut.

Tarekat Naqsyabandiyah dipelajari Kiai Arwani dari KH Manshur Popongan Klaten. Setelah merampungkan pelajaran tarekat, Kiai Arwani menerima ijazah untuk mengajar terekat. Salah satu murid Kiai Arwani yang kemudian dibaiat menjadi khalifah yaitu KH Abdullah Salam Kajen Pati, yang juga seorang “Kiai Qur’an”, dan kemudian menjadi besannya, atas perkawinan putera pertamanya KH Ulin Nuha Arwani dengan Hj Nur Ismah (kini pengasuh Pondok Yanbu’ Putri).

Bagi masyarakat Kudus atau siapa pun yang pernah bersentuhan dengan Kiai Arwani akan senantiasa lekat dengan sejumlah kesan. Sebagai sosok pribadi, Kiai Arwani dikenal sebagai seorang yang halus, santun, dan nyenengake wong akeh (menyenangkan banyak pihak). Namun di balik sosok pribadi ini, terpendam sikap tegas dan keras, terutama bila berkaitan dengan masalah Al-Qur’an. Hingga kini, banyak orang yang pernah menjadi santrinya, akan selalu terkenang kepada tongkat rotan yang kerap disandang Kiai Arwani pada saat mengajar Al-Qur’an. Sabetan rotan bagi siapa pun yang salah dalam membaca Al-Qur’an, agaknya menjadi kontrol bagi para santri agar lebih hati-hati dan tidak sembrono dalam melafalkan Al-Qur’an.

Sikap tegas dan correct dari Kiai Arwani ini nampaknya bukan tanpa hasil. Dapat dikatakan, dewasa ini, setiap pondok pesantren baru yang mengkhususkan diri menjadi “pondok Qur’an” di tanah Jawa, hampir bisa dipastikan adalah alumni Pondok Yanbu’.

Bagi masyarakat Kudus terutama, pengaruh yang paling nampak adalah standar bacaan Al-Qur’an untuk menilai kealiman seseorang. Entah siapa pun dan sebaik apapun dalam bertabligh, apabila seorang muballigh tidak fasih dalam membaca Al-Qur’an, maka pada saat itu nilainya jatuh di hadapan masyarakat Kudus. Dan tentu saja penentuan standar ini tidak lepas dari pengaruh Kiai Arwani.

Sikap rendah hati dalam penguasaan Al-Qur’an juga diwariskan oleh Kiai Arwani kepada para santrinya. Secara tegas Kiai Arwani melarang para santri mengorientasikan Al-Qur’an untuk kepentingan duniawi semata dan untuk ajang perlombaan. Dalam sebuah wasiat yang ditandatangani pada tanggal 11 Jumadil Ula 1401 H, Kiai Arwani berkata:

“Kabeh anak putuku santri Al-Qur’an sing isih sinahu ana pondokku kene utowo sing wis boyong mulih ana ngomahe dhewe-dhewe. Aku gurumu Al-Qur’an ngistokake dawuh wasiate guruku Al-Qur’an mbah Kiai Munawwir Allahu Yarkhamhu: aku lan guruku ora ngelilani yen anak putu santri Al-Qur’an kang melu-melu daftar moco Al-Qur’an kanggo luru donya, pada uga lantaran nganggo musabaqah tilawat Al-Qur’an utowo musabaqah ajwad khuffad Al-Qur’an utowo nganggo cara liyane. Mulo sangka iku kabeh anak putuku santri kakung puteri kang ora ngestokake wasiatku iki ora tak daku anak putu santriku donya akherat. Lan ora diaku putra wayahe mbah Kiai Muhammad Munawwir Almarhum. Jalaran guru iku (Gu) kudu digugu dhawuhe, (Ru) kudu ditiru tindake. Cukup semene wasiatku. Supoyo padha diistukake temenan”.

(Semua anak-cucu santri Al-Qur’an yang masih belajar di pondokku atau santri yang sudah pulang ke rumah masing-masing. Aku gurumu Al-Qur’an mengikuti wasiat guruku Al-Qur’an mbah Kiai Munawwir Allahu Yarkhamhu: aku dan guruku tidak merelakan bagi anak-cucu santri Al-Qur’an apabila ikut serta dalam kegiatan membaca Al-Qur’an dengan tujuan untuk kepentingan duniawi, seperti perlombaan membaca Al-Qur’an, perlombaan hafalan Al-Qur’an, atau berbagai cara lainnya. Oleh karena itu, semua anak-cucu santri baik laki-laki maupun perempuan yang tidak memperhatikan wasiatku ini, tidak akan saya akui sebagai anak-cucu santri baik di dunia maupun akherat. Dan tidak diakui sebagai anak-cucu dari Kiai Muhammad Munawwir Almarhum. Karena guru itu (Gu) harus dipatuhi perintahnya, dan (Ru) itu harus diikuti perilakunya. Cukup sekian wasiatku. Agar benar-benar diperhatikan).

Setiap tanggal 25 Rabi’ul Akhir, haul dari wafatnya Kiai Arwani diperingati. Peringatan haul Kiai Arwani ditandai dengan serangkaian acara, di antaranya tahlilal umum dan ziarah ke makam Kiai Arwani di lingkungan Pondok Yanbu’. Selain itu, para alumni yang tergabung dalam Rabithah Al-Huffadh li Ma’had Yanbu’ul Qur’an akan menggelar  Majlis Nuzul Al-Sakinah li Mubahatsah Masail Al-Qur’an, yaitu forum pembahasan masalah-masalah yang berkaitan dengan pembacaan Al-Qur’an.

Tongkat pengelolaan Pondok Yanbu’ yang merupakan arena “persemaian” para penghafal Al-Qur’an kini telah beralih dari Kiai Arwani kepada generasi penerusnya. Kepergian Kiai Arwani untuk menghadap Sang Khalik adalah hikmah tersendiri bagi bersemainya “Kiai Qur’an” lainnya, yang lebih muda tentu saja.

 

Hasyim

*) Hasyim Asy’ari adalah Dosen Fakultas Hukum, Universitas Diponegoro (Undip), Semarang. Peneliti senior di CeRMIN (Central Riset dan Manajemen Informasi) Kudus, dan pernah menjadi “santri kalong” di Pondok Yanbu’ul Qur’an, Kudus. Komandan Satkorwil Banser Jawa Tengah.

About Ansor Jateng

Check Also

Setelah Terpilih, Gus Sholah Akan Perkokoh Organisasi, Kader dan Jaringan

Semarang, ansorjateng.net, Ketua GP Ansor Jawa Tengah terpilih, Sholahudin Aly atau Gus Sholah, memiliki tugas …

One comment

  1. Membaca manaqib Syaikhuna Hadratussyaikh KH. M. Arwani Amin seakan-akan mengenang kembali perjuanganku di dalam bilik suci di PTYQ Pusat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *