Home / Ansor / Habib Luthfi dan Pengaruhnya di Kalangan Ulama Dunia

Habib Luthfi dan Pengaruhnya di Kalangan Ulama Dunia

Foto by NUOnline
Foto by NUOnline

 

Pekalongan, ansorjateng.net, Hajatan besar Jam’iyyah Ahlit Thariqah Al Mu’tabarah An Nahdliyyah (JATMAN) berupa Konferensi Ulama Internasional ‘bela negara’ baru saja usai digelar. Kegiatan yang berlangsung selama tiga hari mulai 27-29 Juli 2016 di Kota Pekalongan, berlangsung sukses.

Setidaknya, seperti dikutip dari website www.nu.or.id, dari segi pelaksanaan mulai kegiatan penunjang di antaranya ada pawai merah putih, pentas musik ‘Debu’, ta’aruf peserta yang dihadiri Kemenhan RI hingga istighotsah, semuanya berjalan lancar.

Agenda utama berupa konferensi ‘bela negara’ diikuti oleh ribuan peserta dari dalam dan luar negeri. Dari Indonesia tercatat ada sekira 1.500 peserta dari utusan pengurus thariqah cabang dan wilayah se Indonesia, akademisi, pesantren dan pengurus NU. Dan dari luar negeri ada 69 delegasi dari 40 negara.

Tak hanya itu, forum konferensi ulama internasional juga berhasil merumuskan 15 konsensus atau kesepakatan tentang bela negara dan perdamaian dunia. Konsensus dibuat oleh para pembicara dan delegasi berbagai negara sebagai rekomendasi resmi untuk ditujukan kepada pimpinan pemerintahan Indonesia dan negara asal.

Dalam proses perumusan konsensus atau kesepakatan bersama, biasanya dibuat oleh Steering Committee (SC) atau tim perumus yang telah ditetapkan oleh panitia. Kali ini, SC sama sekali tak “cawe-cawe”.

Semuanya diserahkan pada para Ulama peserta konferensi dan delegasi dari luar negeri yang sebagian dari mereka menjadi pembicara dalam konferensi. Sehingga ketika naskah perumusan dibacakan oleh Syech Mohammad Adnan Al Afyuni asal Damaskus, masih berupa berbahasa Arab.

Syekh Muhammad Rajab Dieb, Mursyid Thariqah Naqsabandiyah di Syiria, dalam pidato penutupan konferensi, menyampaikan, bangsa Indonesia harus bergembira karena negaranya menjadi referensi dunia dalam kecintaan pada tanah air. Ulama thariqah dunia terinspirasi dan menyepakati kewajiban membela negara adalah kewajiban tiap warganya.

Mursyid Thariqah dunia Habib Luthfi bin Yahya ketika berpidato dalam acara penutupan konferensi, juga menggelorakan kewajiban bela negara. Rais Aam Idarah Aliyah JATMAN ini juga membakar semangat ribuan orang yang hadir saat membacakan Ikrar Bela Negara.

“Wahai bangsaku, relakah negeri kita ini terpecah belah? Jika tidak, ikuti kata-kata saya, ‘bismillaahirrahmaanirrahiim, asyhadu anla ilaaha illallah wa asyhadu anna muhammadar rasulullah, radhiina billahi robba, wa bil islami dina, wa bi muhammadin nabiyya wa rasula. Kami berikrar: BELA NEGARA ADALAH WAJIB, BELA NEGARA ADALAH WAJIB, BELA NEGARA ADALAH WAJIB’,” tegas Habib Luthfi diikuti ribuan orang secara serentak. Dikatakannya, ikrar ini tentu disampaikan kepada seluruh bangsa Indonesia.

Suksesnya gelaran acara bertaraf internasional baik pelaksanaan maupun hasil yang dicapai, tak lepas dari sosok ulama kharismatik yang mendunia asal Pekalongan Jawa Tengah. Yakni Habib Luthfi bin Ali bin Hasyim bin Yahya.

Tamu-tamu asal luar negeri yang di negaranya menyandang gelar mufti besar atau mursyid thariqah, pun selalu menaruh hormat dan ta’dzim kepada sosok yang sangat dekat dengan umat di segala lapisan ini.

Meski telah dinobatkan sebagai pimpinan thariqah mu’tabarah tingkat dunia, Mursyid Thariqah Syadzaliyah, Rais Aam Idarah Aliyah JATMAN selama tiga periode berturut-turut, dan seabrek jabatan yang diembannya, tak membuat Habib Luthfi capek dan merasa berat memikul amanah.

 

Bela negara yang menjadi tema Konferensi Ulama Internasional, menurut Habib Luthfi sengaja dimunculkan menjadi tema sentral dalam perhelatan yang digelar Jatman. Selama ini, ‘Bela Negara’ dimaknai angkat senjata atau berperang. Padahal bela negara memiliki makna luas, yakni ikut mengisi dan ikut membangun negeri.

“Jangan diartikan sempit, hanya sekadar angkat senjata saja. Bela negara bisa dimaknai dengan ikut mengisi dan ikut membangun negeri ini,” tuturnya.

Dalam merebut kemerdekaan Indonesia adalah para ulama. Sudah seharusnya ulama ikut bertanggungjawab mempertahankannya. Maka kolaborasi ulama dengan TNI adalah keharusan. Ini faktor penting pertahanan negara.

“Semoga di belahan dunia Islam lainnya demikian pula. Jika ulama dengan pemerintah bekerja sama secara baik akan memperkuat dan memperkokoh kemajuan bangsa,” tuturnya.

Habib Luthfi kagum melihat apa yang terjadi di Konferensi Ulama Internasional ini. Unsur pemerintah, ulama, TNI, Polri dan masyarakat bisa hadir bersama dan bersatu. Jika tiap negara bisa demikian, akan tercipta perdamaian di dunia.

“Seluruh bangsa bisa melahirkan kedamaian. Kami ingin mengajak dan menarik kepedulian kita semua untuk bersama menciptakan kedamaian di dunia,” ungkapnya di hadapan para delegasi luar negeri.(NUOnline/Hud)

 

 

**Diolah dari uraian Ketua PC LTN NU Kota Pekalongan, Much. Ngisom Cholil di www.nu.or.id

About Ansor Jateng

Check Also

LBH Ansor Desak Kepolisian Tuntaskan Kasus Penyerangan pada Perayaan HUT RI

  Semarang, ansorjateng.net, Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Gerakan Pemuda Ansor mendesak pada kepolisian untuk melanjutkan …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *