Home / Ansor / Presiden Kita Sedang Nyantri

Presiden Kita Sedang Nyantri

Presiden Joko Widodo, saat tiba di Bandara A Yani Semarang, Ahad (8/1/2017)/Net
Presiden Joko Widodo, saat tiba di Bandara A Yani Semarang, Ahad (8/1/2017)/Net

 

Ansorjateng,net, Setiap menghadiri acara yang diselenggarakan Nahdlatul Ulama (NU), Presiden Jokowi selalu menggunakan pakaian dinas ala santri; Sarung, Peci, dan Jas. Kedekatan Presiden terhadap kaum sarungan ini tentu kita sambut gembira, bukan apa-apa, sebab kita tahu beliau bukan kader “resmi” NU. Dengan demikian penampilannya yang demikian itu, menunjukkan bahwa beliau “sedang nyantri”.

Meskipun banyak pihak melihat ini sebagai ‘gimmick politik’ belaka. Namun sampai sejauh ini terlihat beliau memang berniat untuk nyantri. Sebagaimana pada setiap perbuatan, maka niat akan menguji sekaligus kelak akan menentukan pada hasil-hasil nyantrinya Pak Presiden.

Mungkin banyak yang tak ingin tahu bahwa “nyantri” juga mengandung konsekuensi. Orang mesti tahu kalau menjadi santri itu harus menjalankan “code of conduct”. Misal, antara sesama santri tidak ada yang lebih “mulia”, semua santri sama di hadapan Gurunya (Kiayinya). Dan santri harus patuh seutuhnya pada sang kiayi. Itu sudah adab dasar di dunia pesantren.

Ilmu agama itu bukan dihayati semata berupa, konsep atau ideologi akan tetapi sebagai nutrisi bagi jiwa. Ia mengatur sejak gerak-gerik batin hingga jasad kita. Tumpuan utama ilmu agama adalah bersihnya jiwa, terdidiknya rohani kita sehingga rohani ini kita siap dan kuat mengemban keseluruhan ajaran agama yang sejak dari sononya sudah mulia ini.

Makanya, tak heran jika sekarang banyak yang berilmu namun sepertinya sempoyongan mengemban kemuliaan Islam. Sebab proses memperolehnya yang instan dan tanpa perjuangan dan latihan rohaniah yang panjang.

Pesantren, tempatnya santri menimba ilmu pengetahuan keagamaan memanglah sebuah tempat yang unik. Di mana proses belajar lahiriah dan proses pelatihan rohaniah terkombinasi dengan baik dalam sistem pendidikannya.

Dalam pesantren lah, jiwa-jiwa santri digembleng, dibersihkan, dikuatkan dan dipersiapkan untuk mengemban ajaran “Islam yang mulia dan tak ada yang lebih mulia darinya” itu.

Di sana ukuran keberagamaan tak hanya dilihat dari seberapa banyak ilmu yang ditampung, seberapa banyak kitab yang dilahap, namun seberapa dekat dia dengan Robb-nya, yang indikatornya sangat halus, hingga hanya yang bermata ‘dingin’lah yang mengetahuinya.

Sang Kiyai-lah yang sangat paham pada martabat-martabat santrinya. Sebab dia sudah melewati jalur penempuhan rohani tersebut sewaktu masih belajar.

jokowi-pakai-sarung_20170109_081620

 

Membentuk Peringai

Hari ini kita menyaksikan betapa, ber-Islam itu kadang membuat miris. Kemuliaan-kemuliaan yang dinisbatkan pada Islam itu runtuh berserakan di kaki-kaki mereka yang lantang berslogan keislaman. Namun berperilaku tak mencerminkan sifat-sifat yang mulia. Inilah yang terjadi.

Ketika kemuliaan Islam itu tak berlabuh pada jiwa yang tidak terdidik. Orang melupakan bahwa pengetahuan agama berurusan langsung dengan pembentukan peringai. Ajaran agama mensyaratkan penyucian dahulu sebelum menerima wahyu.

Nabi Muhammad SAW memrosesnya dengan “Tahannuts” panjang sebelum mencapai usia 40 tahun. Karena Agama itu wahyu yang cahaya, karena hanya cermin hati yang bisa menangkap cahaya tersebut.

Tegaknya ajaran Islam itu merupakan senyawa antara kesucian jiwa dan kemuliaan ajaran Islam. Ajaran yang diproses dengan jiwa yang masih bengkok justru akan lebih berbahaya dari kebodohan itu sendiri. Sebab bukan ajaran dari langitlah yang akan tegak, namun kepetingan “nafsani” yang berbalut kebenaran agama yang mengemuka.

Seperti layaknya yang terjadi belakangan-belakangan ini. Kemajuan keagamaan mulai diukur dari derap massa. Keber-Islaman dilihat dari pengertian mobilisasi massa yang konteksnya bahkan jauh dari hakikat (tujuan) Islam itu sendiri.

Metode pembelajaran dari golongan ini bisa kita tebak. Mereka menyematkan militansi melalui pengenalan terhadap realitas, yang diseleksi tentang keadaan-keadaan khusus dari masyarakat di suatu tempat yang beragama Islam.

Kemudian keadaan-keadaan khusus itu dilesakkan pada pemahamannya sebagai kondisi tertindas. Sehingga membangkitkan rasa solidaritas dan semangat perlawanan kemudian dikemas dengan ajaran-ajaran Islam yang juga telah diseleksi.

Sehingga pembakaran emosional tadi mendapatkan pembenaran secara doktriner. Maka jadilah sepasukan orang-orang yang terbakar emosinya yang diperlengkapi dengan sekian kredo yang menyempal dari ajaran induknya, Islam nan mulia.

Dengan demikian, semua yang dilaksanakan di atas bukanlah pendidikan ke-Islaman akan tetapi pendidikan sebuah pergerakan. Semua metode yang diaplikasikan adalah metode-metode pembangkitan militansi. Pencapaian pada sebuah tujuan sosial dan politik yang mengandaikan sebentuk masyarakat yang ditentukan oleh batasan-batasan sosiologis yang profan.

Di sinilah bedanya, jika proses pembelajaran Islam di pesantren itu mengharuskan pembersihan rohani terlebih dahulu, maka dalam kelompok Islam baru ini mereka justru melabuhkan kesucian Islam pada pembakaran dan amarah yang telah dipicu untuk meledak.

Maka jadilah persenyawaan tak suci antara ajaran yang nyempal dengan keburukan nafsu, yang bahkan nabi Yusuf As pun, menyatakan taraf keberbahayaan watak nafsu (yang belum bersih) pada kita. Padahal beliau Nabi yang ma’shum. Jika tanpa Kasih Sayang-Nya, pasti kita akan celaka. Dan, kini secara sembrono dipraktekkan.

 

img-20170109-wa0075

Presiden Ngalap Berkah

Kembali pada Presiden yang nyantri, ini layak diapresiasi sebab hal ini bisa diartikan bahwa simbol tertinggi negara Republik Indonesia ini sedang menjalani lelaku kesantrian. Beliau ‘ngalap berkah’ pada Ulama di seluruh Indonesia, meminta nasihatnya dan menjalankan perintah-perintah khusus buat perkembangan batin beliau.

Di sini lah, titik membanggakannya. Di mana, lelaku nyantri yang biasa dijalani oleh kita-kita yang bukan siapa-siapa, kini dilakoni oleh pucuk pimpinan negara.

Bagi seorang yang diatribusi dengan posisi tertinggi di sebuah negara, sudah menjadi pelatihan rohani tersendiri upayanya untuk mendekat, bermusyawarah, tabarrukan, meminta nasihat pada ulama.

Jadi tak harus seperti kita, yang mesti macul dan makan dengan alas daun pisang secara massal di pesantren untuk menunjukkan pelatihan kerohaniannya.

“Keadaan sama” di hadapan Kiyai juga memiliki makomnya masing-masing. Presiden nyantri tapi kesantriannya bukanlah santri biasa. Para ulama sudah mengetahui cara memposisikan santrinya yang satu ini.

Dari sambutan para Kiai dalam beberapa momen kehadiran beliau, memang santri yang juga presiden ini menunjukkan ketekunannya dalam mengikuti arahan para Kiyai. Tentu kita bisa mengonfrontrir ini langsung dengan kepentingannya untuk menguatkan posisi kepresidenannya.

Sejauh Santri Agung ini tidak menggunakan posisi santrinya untuk melancarkan tujuan-tujuan kepresidenannya, secara otomatis itu membuktikan ketulusannya untuk nyantri. Kalau soal keliru dan terlihat masih kosong, justru itulah yang dituntut dari seorang santri.

Ia harus memiliki sifat kesatria untuk berani diluruskan, jika salah. Ia juga mesti berani dikosongkan dari atribut-atribut keduniawiannya saat berkhalaqoh dengan para gurunya. Meskipun, presiden lho..

Artinya, jika dia sendiri yang tergesa-gesa, menggunakan posisi santrinya untuk menguatkan posisi kepresidenannya itu melanggar adab. Namun, jika dengan menjadi santri kemudian dia lebih mapan dan bijak untuk memerintah yang pada akhirnya menguatkan kepresidenannya, itulah berkah para Gurunya. Harus, sabar ya Pak Presiden.. Hehe.

Yang pasti, Presiden tak akan menjadi pengkhotbah, tapi akan berdakwah ‘bil hal’. Memancarkan substansi ke-Islaman dengan posisinya yang ada. Biar kita-kita saja yang berkata-kata, biarkan santri yang satu ini mengambil keputusan kenegaraan.

Dalam dunia kesantrian, sebagaimana seorang santri akan merasa bahagia jika diajak makan bersama oleh Kiyainya. Maka akan juga menyenangkan jika kelak kita-kita, yang santri bukan siapa-siapa ini, berkesempatan “ngopi-ngopi” bersama dengan Santri Agung ini, Presiden Republik Indonesia, Pak Jokowi.

(Fuad al-Athor, Santri PP. Q.A Kasepuhan Atas Angin, Ciamis)

About Ansor Jateng

Check Also

Setelah Terpilih, Gus Sholah Akan Perkokoh Organisasi, Kader dan Jaringan

Semarang, ansorjateng.net, Ketua GP Ansor Jawa Tengah terpilih, Sholahudin Aly atau Gus Sholah, memiliki tugas …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *