ANSORJATENG.NET , Semarang, – Seorang warga yang menderita gagal ginjal disebut terlantar akibat tak mendapatkan perhatian dari keluarga. Disebutkan nama Abdur Rauf (48 th), warga Tampomas Selatan, RT 1 RW 2 Kelurahan Petompon Kecamatan Gajahmungkur, Kota Semarang yang terpaksa harus ditangani oleh Tim Penjangkauan Dinsos (TPD) Kota Semarang.

Koordinator Wilayah (Korwil) TPD 2, Budi Santoso mengatakan, meski telah menjalani perawatan di rumah sakit, namun Rauf terlantar akibat keluarganya enggan merawat, “Pak Rauf diperbolehkan pulang dari pihak RSWN. Karena Pak Rauf tidak mempunyai tempat tinggal dan keluarganya tidak mau merawatnya maka TPD menjemputnya dari RSWN kemudian di bawa ke panti Among jiwo,” kata Budi saat ditemui di Dinas Sosial Kota Semarang, Gedung Balaikota Semarang Jalan Pemuda 148 Kota Semarang, Selasa (12/11/2019).

Kader Nahdlatul Ulama (NU) memang tak ke mana-mana, namun ada di mana-mana. Budi yang anggota Banser NU dari Semarang Barat ini menjelaskan, Rouf telah menjalani rawat inap selama 7 hari di Rumah Sakit Umum Daerah Wongso Negoro (RSUD WN) Semarang, tepatnya sejak tanggal 25 Oktober 2019 sampai 01 November 2019. Saat dirujuk untuk rawat jalan, Rouf dalam kondisi lemah dan sudah terjadwalkan mengikuti cuci darah.

Semula, TPD menindak lanjuti laporan yang masuk dari Ketua RT 1 RW 2, Nova yang memberitahukan bahwa warganya ada yang sedang sakit dan tidak mempunyai keluarga. Tim korwil 2 segera menuju ke lokasi yang dimaksud, “Di sana kami sudah ditunggu tim AH (tim Ambulan Hebat milik Pemerintah Kota Semarang yang melayani kegawat daruratan,red),” katanya.

Sesampainya di lokasi, lanjutnya, tim AH mengatakan bahwa kelayan (istilah untuk penerima manfaat dinas sosial,red) tidak kooperatif dan melakukan perlawanan ketika akan diambil tindakan medis. Timnya bersama Ketua RT, sesepuh dan tokoh masyarakat, dan beberapa warga mengalami kesulitan untuk melakukan evakuasi.

Setelah melakukan koordinasi dengan Koodinator Kota (Korkot) TPD, Dwi Supratiwi, diputuskan agar meminta warga bersedia menjaga sementara waktu agar tenang karena tidak mungkin membawa kelayan yang menolak bantuan, terlebih lagi memberontak, “Saat anak saudara sepupunya didatangkan untuk membujuk, Pak Rauf malah membentak dan mengusirnya sampai menangis,” terangnya.

Dia melanjutkan, proses pemberian tindakan medis dan evakuasi yang berlangsung sampai larut malam itu belum bisa dilanjutkan, sehingga harus dilanjutkan esok harinya. Menurut informasi yang diperolehnya dari warga, kebiasaan menolak bantuan tersebut mengakibatkan pihak keluarga enggan untuk merawat, terlebih keluarga yang ditinggali merupakan keluarga yang terbilang jauh atau bukan kerabat dekat.

Setelah mendapatkan perawatan secukupnya di RSWN, pendampingan dilanjutkan oleh anggota TPD yang ada di Kecamatan Gajahmungkur Kunti Septijarini Inasanti atau biasa disapa Ina. Dijelaskan, pada Jumat sore, (8/11/2019) kemarin, Abdur Rauf diantar ke RSWN untuk menjalani cuci darah atas penyakitnya tersebut. Malam itu, Ina bersama Bayu dan Asti Yustianti mengantarkan kelayan tersebut ke Panti Rehabilitasi Sosial Among Jiwo sebagai tempat singgah sementara waktu.

Perlu diketahui, Pemerintah Kota Semarang melalui Dinas Sosial telah menjalin kerja sama dengan pihak RSWN dalam proses perawatan para penerima manfaat dengan dampingan anggota TPD yang membantu mengurus administrasi Universal Health Coverage (UHC) Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan (*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini