ANSORJATENG.NET, SEMARANG – Proklamator kemerdekaan Indonesia Soekarno pernah mengingatkan perjuangan mempertahankan dan menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) jauh lebih susah ketimbang mengusir kolonial Belanda. Sebab bahaya dari dalam kerap muncul tanpa disadari.

Hal inilah yang disampaikan Ketua Tanfidziyah Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Semarang KH Anashom kala memberikan sambutan pembukaan Seminar Pencegahan Radikalisme Pengurus Cabang (PC) Gerakan Pemuda (GP) Ansor Kota Semarang bersama Persaudaraan Lintas Agama (Pelita) Kota Semarang, dan Dema Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK) Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang

Anashom bahkan menegaskan bisa jadi musuh bangsa ini tak jauh dari lingkungan kita sendiri, “Kalau dulu musuhnya jelas. Bukan bangsa sendiri. Bisa diusir. Saat ini yang harus dihadapi bisa tetangga atau saudara sendiri,” kata Anashom menerangkan, Kamis (27/02/2020).

Anashom yang juga dosen FDK UIN Walisongo ini menjelaskan lebih lanjut, tantangan bangsa Indonesia saat ini semakin luas, terlebih bagi Ansor-Banser. Di satu sisi dituntut harus menjaga kondusifitas dan kedamaian. Akan tetapi disaat yang sama seperti ditantang. “Ini rumit. Maka selalu saya sampaikan kalian harus ampuh tapi ora intuk gelut,” ujarnya di hadapan puluhan mahasiswa dan kader Ansor-Banser yang memenuhi Laboratorium FDK, Kampus 3 UIN Walisongo Semarang, Jawa Tengah.

Bahkan, lanjutnya menjelaskan, kita sering mendapati yang bertugas kadang tidak mengerti karena berbasis agama. Kadang mereka membuat kegiatan yang nampaknya baik tapi justru dimaksudkan untuk menggulingkan negara sendiri.

Sementara Kesbangpol Kota Semarang Hartono menyebut data riset dari berbagai lembaga riset nasional menunjukkan radikalisme telah menjangkiti kalangan mahasiswa dan pelajar. Indikasinya, hasil riset menyatakan tingginya prosentase mahasiswa dan pelajar yang tidak setuju dengan Pancasila. “Sehingga kalau boleh saya katakan bahwa angka-angka ini menunjukkan keprihatinan kita. Kalau kita memperhatikan angkanya kita khawatir,” katanya.

Ia melanjutkan, selain kalangan pelajar dan mahasiswa, radikalisme juga telah menyasar tenaga pendidikan, guru dan dosen. “Ternyata guru dan dosen tak ketinggalan juga,” ucapnya.

Namun demikian, ia menuturkan, penegakan hukum dalam proses deradikalisasi belum bisa efektif karena gejala radikalisme tidak bisa ditindak sebelum melakukan hal-hal yang bersifat radikal. “Kami membuka diri untuk bekerjasama untuk deradikalisasi,” ujarnya. (Q024)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini