M Rikza Chamami

 

Oleh: M Rikza Chamami
(Wakil Sekretaris GP Ansor Jawa Tengah)

Baru saja kemarin saya mendengarkan khutbah Jum’at di sebuah Masjid yang menyinggung soal penolakan Ustadz Abdus Shomad di Semarang. Dalam hati saya, kenapa khatib ini bernada tinggi seakan marah. Tapi saya tahan, saya pun tidak boleh marah. Karena khutbah itu sakral dan harus dihormati.

Kebetulan saja saat itu, saya membawa HP dan langsung saya rekam isi khutbahnya. Sesampai di rumah, rekaman khutbah itu saya dengarkan pelan-pelan sambil makan siang. Isinya tidak ada yang aneh dan nada tinggi itupun wajar karena ternyata Sang Khatib adalah pecinta Ustadz Abdus Shomad.

Bagaimana seharusnya kita memahami suasana keagamaan kekinian menjelang Pileg dan Pilpres 2019?

Semua memang harus bijak dan butuh waktu panjang untuk bisa saling memahami dan menghormati. Sampai soal Ustadz Abdus Shomad pun harus dibawa ke panggung mulia khutbah Jum’at dengan kalimat: “Harus mendukung Ustadz Shomad. Dan kalau dia angkat pedang, mengajak perang dan memberontak NKRI kita sembelih bareng-bareng”.

Miris sekali kalau semua kalimat-kalimat itu kemudian muncul dan lahir sebagai ajaran dan ajakan. Maka dibutuhkan kalimat demi kalimat yang mengajak masyarakat untuk saling menghargai, bukan dengan cara provokasi.

Adanya api pasti ada asap. Dari titik asap itulah kemudian perlu dibuatkan asap yang ramah lingkungan. Apa artinya? Berdakwah dengan ramah. Disitulah lingkungan keagamaan akan menjadi kondusif dan damai.

Setiap kegiatan dakwah agama sudah barang tentu target utamanya adalah ajakan untuk menuju ketaatan dalam beragama. Diantara modal taat beragama adalah butuh kenyamanan berdakwah, berupa keamanan lingkungan dan jaminan kemerdekaan berserikat.

Dua hal itu akan didapatkan jika ada kolaborasi taktis dari masyarakat dan dukungan aparat pemerintahan. Bahwa jaminan keamanan itu butuh restu-dukungan lingkungan sekitar dan dukungan keamanan dari pihak berwajib.

Semua akan mudah didapatkan jika proses perjalanan pra-acara perlu dikuatkan dengan semangat saling menghargai dengan dakwah ramah penuh ajakan beragama dan berbangsa dengan baik. Hidup rukun dan damai akan terasa enak dan nyaman dengan semangan berislam dan berindonesia.

Jangan ada pemelintiran kondisi ada kriminalisasi ulama dan upaya pemutarbalikan fakta pembubaran tabligh/pengajian–hanya karena memahami perspektif yang berbeda.

Indonesia sangat butuh ulama penebar ramah. Bangsa kita butuh penceramah yang berjiwa agamis dan nasionalis, yang mengajak beragama dan berbangsa. Masyarakat akan mendapat informasi agama yang utuh jika dakwah ditebarkan dengan senyuman dan penuh keramahan.

Mari satukan tekad dan kebersamaan untuk kembali mengindonesiakan bangsa kita dengan semangat Islam rahmatan lil ‘alamin. Segala perbedaan perlu dimusyawarahkan dengan kepala dingin hingga ada solusi terbaik untuk tetap setia mengibarkan bendera merah putih dan menerbangkan Garuda Pancasila–dengan nilai-nilai Islam rahmah.*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here