Beranda / Religi / Bahtsul Masail / Ini Penjelasan Islam Nusantara dari Habib Luthfi, Penggagasnya dan Kiai Said

Ini Penjelasan Islam Nusantara dari Habib Luthfi, Penggagasnya dan Kiai Said

Maulana Al-Habib Muhammad Luthfi bin Ali bin Yahya, di Majelis Kanzul Ulum Desa Waru, Kecamatan Mranggen, Kabupaten Demak, Minggu (17/4/2016) malam.

 

 

Ansorjateng.net, Gencarnya serangan terhadap gagasan Islam Nusantara mendapat respon dari Maula Habib Luthfi bin Yahya Pekalongan.

Habib Luthfi meminta agar masyarakat tidak salah paham dengan gagasan Islam Nusantara.

Dikutip dari dutaislam.com, Habib Luthfi memberikan perumpamaan mengenai Islam Nusantara yang digagas oleh Nahdlatul Ulama (NU).

Beliau mengupamakan Islam Nusantara dengan kebiasaan budaya lokal yang berbeda di masih-masing negara yang tidak sama.

Contohnya, orang Islam Amerika makan pakai sendok garpu membaca basmalah. Berbeda dengan orang Cina yang makan menggunakan sumpit, tetapi mereka juga baca basmalah.

Demikian kebiasaan orang Jawa, makan menggunakan tangan juga baca basmalah. Ketiganya berbeda secara praktek, tetapi intinya sama.

“Orang Islam di Amerika makan pakai sendok garpu baca basmalah, orang Islam di Cina makan pakai sumpit juga baca basmalah, di Jawa makan pakai tangan juga sama baca basmalah. Nggak ada bedanya, sing penting yang dimakan halal dan sama-sama menyebut nama Allah, walaupun cara makannya beda-beda. Nah itulah Islam Nusantara itu,” jelas Habib Luthfi dalam Majelis Ta’lim Habib Sholahuddin bin Ahmad bin jindan, Otista, Jakarta Timur, Sabtu (28/07/2018).

Habib Luthfi kemudian meminta agar masyarakt tidak salah paham dengan gagasan Islam Nusantara.

“Jadi jangan salah paham sampean! Masa Islam Nusantara dibilang agama baru! terus nanti ada Nabi Jawa, Nabi Sunda gitu? Ya gak mungkin!,” jelas Habib Luthfi.

Sementara itu, dikutip dari dutaislam.com, KH Ahmad Ishomudin (Lampung), sosok yang menggagas istilah Islam Nusantara, mengungkapkan, bahwa istilah tersebut adalah tema besar dalam Muktamar ke-33 NU 1-5 Agustus 2015 di Jombang, Jawa Timur, yaitu Meneguhkan Islam Nusantara untuk Peradaban Indonesia dan Dunia.

“Sungguh mengherankan jika orang-orang yang tak ikut serta menggagasnya tiba-tiba tampil seperti orang yang merasa paling tahu, menjelaskan sendiri apa yang dimaksud dengan Islam Nusantara, memfitnah penggagasnya dengan sebutan liberal, menuduh PBNU anti  Arab, menyebarluaskan video shalat dalam bahasa Indonesia seolah begitu ajaran Islam Nusantara, dan sebagainya,” tulisnya dalam kolom komentar status di Facebook, Jumat (13/07/2018).

Kiai yang kini menjadi Syuriah PBNU sejak dipimpin KH Sahal Mahfudz tersebut, mengaku heran dengan mereka yang tetap menolak sambil melontarkan caci maki yang sungguh sangat tidak patut dialamatkan kepada para pimpinan NU di PBNU.

“Yang menggagas konsep Islam Nusantara itu saya dan kawan-kawan di PBNU menjelang Muktamar ke-33 NU 1-5 Agustus 2015 di Jombang, Jawa Timur. Gagasan itu sudah dibahas dalam rapat gabungan Syuriah dan Tanfidziyah PBNU, dikaji berkali-kali dalam sekian kali Bahts al-Masail dan berulangkali diseminarkan, dan bahkan menjadi tema besar Muktamar NU itu sehingga menjadi kesepakatan para muktamirin,” paparnya.

Setelah muktamar, Islam Nusantara disosialisasikan oleh PBNU melalui International Summit of The Moderate Islamic Leaders (ISOMIL) tanggal 9-11 Mei 2016 di Jakarta Convention Center, Jakarta, yang diikuti oleh para ulama besar dari 23 negara dan mendapatkan apresiasi serta penerimaan yang luar biasa.

“Islam Nusantara kini bahkan dikait-kaitkan dengan politik praktis dukung-mendukung calon presiden, padahal tidak ada hubungannya sama sekali dengannya, tidak dari dekat dan tidak pula dari jauh,” tandas Kiai Ishomuddin.

Dikutip dari Sindonews.com, yang melakukan wawancara dengan Ketua Umum PBNU Prof KH Said Aqil Siraj, sebelum digelarnya Muktamar ke-33 NU 1-5 Agustus 2015 di Jombang, Jawa Timur, secara lengkap sebagai berikut:

Muktamar Jombang mengusung tema Islam Nusantara. Apa pentingnya tema ini? 

Lengkapnya, meneguhkan Islam Nusantara untuk Peradaban Indonesia dan Dunia. Jadi begini, Islam Nusantara merupakan warisan dari para wali, terutama Wali Songo yang berhasil mengislamkan dan mewarnai dengan dakwah Nusantara bil hikmah (dengan kebijaksanaan), wal mau’idhah hasanah (nasihat), wal mujadalah (diskusi), tidak dengan kekerasan. Islam yang dibawa Wali Songo ialah Islam yang terbuka dan melebur dengan tradisi-budaya tanpa ada bentrokan, kecuali tradisi yang jelas-jelas melanggar syari’ah. Itu yang harus kita pelihara dan kembangkan.

Kalau ada yang mengira Islam Nusantara anti Arab, keliru. Tidak baca sejarah. Hubungan Islam Nusantara dengan Timur Tengah sudah lama. Ulama seperti Syeikh Ahmad Khotib Sambas, Syekh Nawawi Banten, Syekh Abdusshomad Palembang, dan banyak yang lain mendapat reputasi internasional karena karya dan pengabdian mereka di Timur Tengah sangat diakui hingga sekarang. Maka, kurang lebih seperti Sunan Kalijaga ajarkan, “Jawa dijaga, Arab digarap”, itulah Islam Nusantara.

Karakter tawasuth atau moderatnya yang penting. Sekarang terlihat, dunia Arab dibakar perang saudara tak habis-habis, sementara di Eropa dan Amerika, Islamophobia menggejala di mana-mana. Serba repot. Wajar kalau orang seperti saya dapat Global Peace Award. Wajar kalau NU diminta ikut memediasi konflik di negara-negara Arab. Wajar kalau Kyai Mustofa Bisri banyak diundang ke Eropa untuk memperkenalkan wajah Islam yang ramah. Alhasil, wajar kalau Islam Nusantara yang moderat ini sangat dinanti-nantikan dunia. (Dutaislam.com/Sindonews.com/HD)

Tentang Ansor Jateng

Baca Juga

Fatayat Ranting di Cepu Berhasil Kumpulkan Santunan Yatim Piatu Sejumlah Rp 16 Juta

ANSORJATENG.NET, BLORA – Pada Rabu (19/9/2018), Muslimat NU dan Fatayat NU Ranting Sumberpitu, Cepu Blora, …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *