Beranda / Berita / Mengapa Perlu Memilih Guru? Agar Sanad Ilmu Bersambung Rasulullah

Mengapa Perlu Memilih Guru? Agar Sanad Ilmu Bersambung Rasulullah

 

M Rikza Chamami

 

Oleh: M. Rikza Chamami

(Wakil Sekretaris PW GP Ansor Jateng/Dosen UIN Walisongo Semarang)

 

Ilmu agama akhir-akhir ini mengalami pasang surut. Kenapa? Sebab pengetahuan agama yang didapat dengan instan seringkali disalah pahami. Media mainstream dan media sosial via teknologi internet dengan cepat dapat menjadi alternatif sumber belajar agama. Namun apa yang terjadi? Agama yang hadir justru menjadi “paham salah” akibat “salah paham”.

Belum lagi, perbedaan cara pandang agama berdasar pendapat para mujtahid tidak dijelaskan secara gamblang. Akhirnya muncul generasi “asal-asalan” dan generasi “penguasa kebenaan”. Oleh sebab itu, guru saya Habib Umar Muthohar merasa prihatin dengan kondisi yang demikian.

Dalam sebuah kesempatan diskusi dengan Habib Umar Muthohar, beliau sampaikan: “Perlu dipertegas agar seorang yang mengajarkan ilmu agama harus mempunyai guru yang bersanad hingga Rasulullah—dan bukan bersanad dari toko kitab atau “ustadz” google”.

Apalagi fenomena para ustadz artis yang merajalela muncul ke permukaan—pasti menjadikan orang bingung. Belum lagi, nyata soal kesalahan fatal para ustadz artis dalam menjelaskan soal agama. Misal salah menulis ayat Al-Qur’an dan ustadz yang menghina Nabi Muhamad Saw.

Habib Umar Muthohar menanggapinya: “La wong ngene diundang “ustadz” dan diberi “panggung”—masyarakat kita yang perlu diberitahu cara memilih guru—lulusan pondok, muridnya para Kyai, para auliya’ tidak diberi panggung—la piye meneh. Dlallun mudlillun”.

Melihat yang demikian, Habib Umar kembali menegaskan: “Dan perlu diberi aksentuasi bahwa ustadz bersanad itu ya yang pesantren umumnya karena kyai-kyai pesantren itu berguru kepada Kyai dan sanadnya (bersambung) hingga Kanjeng Nabi”.

Akhirnya saya mencoba menunjukkan Kitab Syaikh Sholeh bin Umar Assamarani (KH Sholeh Darat) berjudul Al Mursyid Al Wajiz. Di dalam itu dituliskan guru-guru Mbah Sholeh Darat dari berbagai disiplin ilmu, baik ketika masih di Jawa maupun di Makkah Almukarromah.

Habib Umar kembali merespon dengan penuh kagum: “Coba direnungi ada KH Muhammad Nur Sepaton (daerah Gendingan), KH Muhyi Kranggan (seputar Kauman), KH Ishaq Damaran (timur pasar Johar, mungkin itu yang dijuluki Kyai Damar, termasuk pakunya Semarang)—bersambung ke KH Asnawi Kudus. Jalinan guru-gurunya yang masya Allah. Dan daerah Semarang “tempoe doeloe” punya masyayikh yang kondang di berbagai daerah: Sepaton, Kranggan dan Damaran”.

Ituah catatan keci dari diskusi saya dengan Habib Umar Muthohar yang perlu dijadikan renungan bagi para pencari guru agama—agar tidak terjadi “paham salah” akibat “salah paham”.

Berikut ini penjelasan Syaikh Sholeh bin Umar Assamarani dalam Kitab Al Mursyid Al Wajiz: ”Sesungguhnya menggurukan ngaji Al-Qur’an itu hukumnya wajib di dalam sesuatu yang wajib, misalnya mengaji surat Al-Fatihah. Dan sunnah hukumnya jika ngaji surat-surat yang sunnah. Demikian juga menggurukan ilmu syariah—juga hukumnya wajib. Sebab ilmu yang tanpa guru itu ilmu laqith, seperti anak terantar yang tidak ada Bapak-Ibunya—tidak bisa disebut sebagai ilmu.

Bahkan oleh Sayyid Abdullah bin Hijazi Asy Syarqawi pemilik Syarah Hikam menyebutkan: “Sesungguhnya mengetahui sanad ilmu guru masuk dalam kategori agama (sangat penting). Barangsiapa yang mengetahui sanad ilmunya, maka ilmunya tidak seperti ilmu laqith.

Sebab kata sebagian ulama: “Adapun sanad ilmu guru itu seperti pedang yang digunakan perang”. Ulama lain menyebutkan bahwa: “Sanad ilmu guru itu seperti tangga yang bisa digunakan naik menuju sumbernya ilmu (seperti jalur anak dan Bapak)—yang menjadi persambungan antara anak hingga Allah Swt”.

Dan barang siapa yang tidak memiliki sanad ilmu, kata KH Sholeh Darat, maka akan mengucap seenaknya sendiri (tidak jelas arahnya). Bersumber pada sumber agama itu, maka KH Sholeh Darat menuliskan sanad-sanad ilmu ketika mengaji baik di Jawa maupun di Makkah.

Semoga tulisan singkat ini menjadi renungan bagi kita agar mencari guru dengan baik—yang bersambung sanadnya hingga Rasulullah Saw—agar ilmunya tidak disebut ilmu laqith.*)

Tentang Ansor Jateng

Baca Juga

Sambut Hari Santri Nasional, Digelar Kemah Penggalang Ma’arif NU di Tegal

Jatinegara. Ansorjateng.net – Dalam rangka menyambut dan menyemarakkan Hari Santri Nasional (HSN) 2018, Koordinator Satuan Komunitas …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *