Beranda / Ansor / Kisah Haru Banser Muh Rofii: Mas, Izinkan Aku Ngurip-urip NU

Kisah Haru Banser Muh Rofii: Mas, Izinkan Aku Ngurip-urip NU

Sahabat Muh Rofii, peserta DTD Banser Satkoryon Tingkir, Kota Salatiga.

 

Salatiga, ansorjateng.net, Kisah menggemparkan kembali muncul di kalangan Barisan Ansor Serbaguna (Banser) Jawa Tengah.

Jika sebelumnya, pada pekan lalu ada kisah calon anggota Banser mengikuti Diklatsar yang usianya sudah lebih dari 60 tahun di Boyolali. Serta adanya para kepala desa dan sejumlah perangkat desa mengikuti Diklatsar di Boyolali, kali ini kisah terjadi di Salatiga.

Cerita itu muncul berawal adanya kegiatan Diklat Terpadu Dasar (DTD) Banser di Satkoryon Tingkir, Kota Salatiga, pada Jumat (7/9/2018).

Menurut penuturan salah satu panitia pelaksana, Muhammad Nabhan, saat itu jam menunjukan pukul 08.00 wib. Tempat registrasi DTD Banser Satkoryon Tingkir Salatiga sudah mulai dibuka.

Banyak peserta yang antre mengembalikan formulir yang telah dibagikan panitia sebelumnya.

Kemudian, lanjut Nabhan, 45 menit berlalu, datanglah seorang dengan sepeda roda tiganya terlihat agak bingung mencari tempat untuk mengembalikan formulir pendaftaran yang digenggamnya.

Pria tersebut kemudian turun dari sepeda motor roda tiga miliknya, dan tidak lupa dengan kedua tongkat penyangga tubuhnya sebelah kanan dan kiri.

“Mas, pendaftarannya sebelah sini,” ucap Nabhan pada pria tersebut.

Dengan jalan perlahan, ia menghampiri Nabhan dengan nafas agak terengah-engah.

Setelah berjalan sambil menyodorkan formulir, ia berkata, “Mas, izinkan aku ngurip-urip NU (Mas, izinkan saya untuk ikut menghidupkan NU).”

Mendengar ungkapan tersebut, Nabhan tersentak dan terkejut. Sesaat nafasnya sudah mulai tak beraturan dan air mata pun tak terasa mulai menetes.

Nabhan terharu melihat keikhlasan seorang hamba Allah yang tulus ikhlas dengan keterbatasan yang dimiliki untuk bersedia takdzim menjaga Islam, NU dan NKRI.

“Sesaat kata hatipun terucap, Mas Rofii, kita semua iri dengan njenengan,” ungkap Nabhan.

Pria tersebut adalah Muh rofi’i. Dari data diri yang diserahkan, ia tercatat lahir di Kabupaten Semarang pada 22 Januari 1977, dan kini beralamat di Dusun Krajan RT 01/ RW 05 Kelurahan Tingkir Lor, Kecamatan Tingkir, Kota Salatiga.


Sahabat Muh Rofii, peserta DTD Banser Satkoryon Tingkir, Kota Salatiga.

Sahabat Muh Rofii, peserta DTD Banser Satkoryon Tingkir, Kota Salatiga.

Sahabat Muh Rofii, peserta DTD Banser Satkoryon Tingkir, Kota Salatiga.

Sahabat Muh Rofii, peserta DTD Banser Satkoryon Tingkir, Kota Salatiga.

Sahabat Muh Rofii, peserta DTD Banser Satkoryon Tingkir, Kota Salatiga.

Ketua Pimpinan Cabang GP Ansor Kota Salatiga, Setiawan mengungkapkan, DTD Banser Tingkir digelar selama tiga hari dari Jumat hingga Ahad, di Pondok Pesantren Al Hijrah Salatiga. Jumlah peserta yang mendaftar mencapai 110 orang.

“Kemudian yang diluluskan ada 83 orang terdiri dari 18 putri dan 65 putra, termasuk Sahabat Rofii juga lulus,” ungkapnya.

Terkait Rofii, awalnya, ia ragu akan keseriusannya dapat mengikuti DTD Banser hingga tuntas. Ternyata, perkiraan ia dan sejumlah anggota yang lain, salah besar.

“Dari awal saya tidak yakin dia mampu mengikuti sampai akhir. Dan ternyata di luar perkiraan kita. Bahkan Caraka malam juga ikut. Alhamdulillah, dia lulus,” ungkapnya.

Pihaknya berkesimpulan, bahwa fenomena ini adalah petunjuk dari Allah SWT pada seluruh kader Ansor dan Banser untuk tidak putus asa dan tetap semangat berjuang di jalan yang diridhoi Allah di NU melalui GP Ansor.

Keberadaan Rofii, yang berlatar belakang seorang pedagang keliling, serta ada kekurangan fisik, telah memompa semangat kader Ansor dan Banser, utamanya di Kota Salatiga. Rofii juga aktif di komunitas difabel Salatiga.

“Ini otomatis, dapat memotivasi sahabat-sahabat lain. Bahkan saat materi Aswaja di awal, sahabat Rofii ini sempat izin sebentar karena anaknya sakit panas, ternyata tak lama sudah kembali lagi. Jadi benar-benar saya lihat beliaunya serius dan ikhlas,” ungkapnya.

Pada peserta DTD dan kader Ansor Banser di Salatiga, Setiawan telah menegaskan bahwa siapapun yang ingin bergabung, harus meluruskan niat untuk berkhidmah pada NU tanpa pamrih.

Terlebih, untuk mengikuti DTD tidak dibayar tapi justru bayar. Maka jika tidak meluruskan niat, akan kecewa di kemudian hari.

“Saya sudah  wanti-wanti pada semuanya bahwa di Ansor Banser adalah suatu hidmah pada NU lewat kamar Ansor. Kalau anda tidak tulus mengharap ridho Allah maka akan tahu sendiri akibatnya. Kalau jadi beban, sebaiknya mundur. Dan ternyata semangatnya sahabat-sahabat luar biasa, Alhamdulillah,” tuturnya.(Ansor Jateng/Huda)

 

Tentang Ansor Jateng

Baca Juga

10 November, Resolusi Jihad NU dan Perang Empat Hari di Surabaya

      Oleh K Ng H Agus Sunyoto Pada 73 tahun silam, tepatnya tanggal …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *