Beranda / Berita / Oleh-oleh Ziarah ke Sunan Nyamplungan Karimunjawa, Keselarasan Agama dan Budaya

Oleh-oleh Ziarah ke Sunan Nyamplungan Karimunjawa, Keselarasan Agama dan Budaya

Makam Sunan Nyamplungan di Karimunjawa

Jepara, Ansorjateng.net – Nusantara ini memiliki budaya luhur tersendiri, utamanya dalam bersikap serta menjaga hubungan sosial dengan orang lain. Lembah manah dan andhap asor atau rendah diri dengan keluasan hati menjadi cerminan kesahajaan dalam kesederhaan yang menjadi kekhasan budaya bangsa.

Lembah manah dan andhap asor merupakan sebentuk sikap hidup yang menjadi aspek penting dalam budaya Nusantara, khususnya Jawa.

Beberapa petuah bijak yang mengungkapkan supaya menghindari sikap congkak (tinggi hati) dalam ungkapan aja adigang adigung adiguna (jangan menyombongkan kedudukan, kekuatan, kepandaian), ngerti empan papan (mengerti situasi dan kondisi).

Aja seneng lamun ginunggung ( jangan senang jika disanjung), ora serik lamun diina (jangan marah jika dihina), ngalah ora ateghes kalah (mengalah tidak berarti kalah), dan sebagainya merupakan karakter dasar yang ditekankan dalam budaya Jawa.

Mengenal budaya dari sisi transenden, sikap lembah manah dan andhap asor terkait erat dengan Agama. Baik Agama maupun budaya jawa mengajarkan, segala yang kita miliki adalah titipan Gusti Allah (Tuhan).

Keyakinan itu tercermin dalam ungkapan bandha titipan, nyawa gandulan (harta sebagai titipan dan nyawa sebagai pinjaman).

Harta yang dimiliki, kedudukan yang diemban, dan bahkan nyawa dalam tubuh bukanlah hak milik sepenuhnya, tetapi sebagai titipan atau gandhulan.

Sebuah ungkapan penyadaran yang mana titipan, seseorang harus rila (iklhas) jika sewaktu-waktu semua itu diambil oleh yang memilikinya, yakni Tuhan dan karena itu lembah manah dan andhap asor menjadi sebuah peringatan tersendiri bagi masyarakat Jawa.

Keselarasan kosmologi tersebut menghasilkan Ulama yang berwibawa. Kita sadari pula kewibawaan atau kaperbawan (jawa) tidak perlu dicari dan diperjuangkan, melainkan akan datang sendiri seiring dengan perbuatan kita yang baik, “Lembah manah lan andap asor iku dalane kaperbawan” (rendah hati merupakan jalan lahirnya kewibawaan), dan “Tanpo guno wibawaku neng ngarepe manungso nek Gusti ngasorake awakmu” (idak ada gunanya kamu tampak wibawa di hadapan manusia tapi hina dalam pandangan Tuhan).

Datuk Sunan Nyamplungan Karimunjawa mencerminkan sikap yang demikian luhur ini. Bahkan, untuk riwayat keluhuran pekerti dan sepak terjangnya yang penuh jasa terkubur bersama jasadnya. Tak terungkap dan enggan diungkap.

Diterangkan oleh Juru Kunci makam Datuk, Mbah Parijan saat tim media ansor jateng bersillaturrahim di kediaman beliau, desa Nyamplungan, Karimunjawa. Kakek berusia 100 tahun lebih ini meneruskan ayahnya menjaga makam tersebut. Dia menerangkan, tak ada cerita secara spesifik tentang siapa dan bagaimana mulanya Datuk Sunan Nyamplungan.

Hanya penjelasan tentang Sayyid Abdullah yang disemayamkan di desa Kemujan disebut sebagai tokoh yang membuat Mbah Datuk kerasan di daerah tersebut. Berbagai macam kendala selalu ada setiap ada yang berniat membukukan biografi Mbah Datuk, Sang Sunan Nyamplungan.

Lebih lanjut dia menerangkan sebagaimana informasi yang didapatkan dari al marhum ayahnya. Asal usul dan karamah mbah Datuk tidak boleh diungkapkan secara gamblang. Pernah ada yang mencoba menyusun buku, kata mbah, tentang biografi tapi gagal.

Berbagai kendala dihadapi dan menurut penuturan seorang tokoh menyatakan, Datuk Sunan Nyamplungan tidak menginginkan adanya hal tersebut.

Salah satu hal yang menjadi rujukan karamah Sang Wali, bahwa setiap peziarah yang memiliki hajat baik berwashilah kepada Waliyullah Sunan Nyamplungan pada umumnya terkabulkan.

Popularitas bagi Ulama bukanlah sebuah hal penting untuk diperjuangkan. Kedalaman ilmu agama, dan kedekatan pada Sang Khaliq dimanifestasikan secara membudaya menjadi esensi tersendiri dalam berdakwah.

Laku hidup yang penuh perjuangan demi keridlaan Allah SWT menjadikan segala sesuatu yang ada di bumi ini hanyalah sebuah sarana untuk dapat dekat kepada Sang Khalik menuju ketakwaan. Tak perlu dikenal manusia, namun dekat dengan Sang Pencipta.(Rifqi Hidayat/Hud)

Tentang Ansor Jateng

Baca Juga

Di Desa Tertinggi Pulau Jawa, Tim KSN Disambut Ribuan Warga dengan Penuh Haru

Wonosobo, Ansorjateng.net – Tim Kirab Satu Negeri (KSN) yang sampai di Wonosobo disambut ribuan warga di Desa …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *