Beranda / Berita / Buru-buru Berburu Sunset Karimunjawa Inn, Merinding dan Masya Allah Indahnya!

Buru-buru Berburu Sunset Karimunjawa Inn, Merinding dan Masya Allah Indahnya!

Sunset di Bukit Karimunjawa Inn

 

Jepara, Ansorjateng.net – Wisata bahari di Kepulauan Karimunjawa, terus berkembang. Piknik ke Karimunjawa pun tak pernah bosan. Indahnya alam bawah laut yang Masya Allah menakjubkan, air yang jernih, menentramkan jiwa yang kering.

Akhir September lalu, Tim Media Ansorjateng.net (Huda, Aji Ervanto, Musonifin, Sholikin, Rifqi, Wijaya) berkesempatan mengikuti kegiatan Famtrip Karimunjawa dalam rangkaian memeriahkan Festival Karimunjawa 2018 yang digelar Dinas Kepemudaan, Olahraga dan Pariwisata (Disporapar) Provinsi Jawa Tengah.

Di hari pertama, Jumat (28/9/2018), kami fokuskan mengekspose keberadaan dua makam Wali yakni Sunan Nyamplungan atau Syaikh Amir Hasan di Karimunjawa, dan makam Sayyid Abdullah di Kemujan. Kita melakukan shooting, wawancara, dan menggali informasi tentang dua makam keramat ini.

Proses shooting di makam Sunan Nyamplungan Karimunjawa

 

Pada Sabtu (29/9/2018), dari pagi sampai pukul 15.00 Wib, tim mengikuti tour laut ke sejumlah pulau kecil di kepulauan ini. Snorkling menikmati alam bawah laut, hingga menikmati indahnya pantai di Pulau Geleang yang fenomenal karena memiliki pemandangan air tiga warna.

Kepala Disporapar Provinsi Jateng, Urip Sihabuddin saat menikmati keindahan pantai Pulau Geleang, Karimunjawa.

 

“Masya Allah, sungguh luar biasa ciptaan Allah untuk Jawa Tengah. Ini emas Karimun, potensi yang sangat besar,” celetuk Kepala Disporapar Provinsi Jateng, Urip Sihabuddin saat berbincang dengan Ansorjateng.net sambil menikmati keindahan pantai Pulau Geleang.

Setelah berpanas-panas ria keliling pulau menggunakan perahu, rombongan kemudian menuju penginapan untuk istirahat.

Pulau Menjangan Kecil, Karimunjawa, Jepara, Jawa Tengah.

 

Kebetulan, sore itu dalam rundown agenda Famtrip sedang kosong, sebab menurut Kepala Bidang Pemasaran Disporapar Jateng, Alamsyah, peserta disarankan istirahat untuk bersiap menghadiri peluncuran program Festival Karimunjawa 2018 yang digelar di Alun-alun Karimunjawa malamnya.

Penanda waktu di gadget terlihat menunjukan pukul 16.00 WIB. Kami yang sedang beristirahat di penginapan, berinisiatif untuk memanfaatkan waktu menikmati sunset. Kebetulan salahsatu dari tim, ada yang sudah 9 kali ke Karimunjawa, tentunya sangat tahu seluk beluk pulau ini.

“Ayo berburu sunset, aku tunjukan spot ekslusif yang belum dibuka untuk umum, sangat indah dan spektakuler,” ucap salah satu anggota tim kami tersebut.

Mendengar ucapan itu, tim langsung bergerak cepat berkemas menyiapkan kamera. Selanjutnya langsung bergegas mengendarai sepeda motor yang kebetulan kami sewa (biaya pribadi) dari warga setempat. Tancap Gaasss…!!!

Hanya butuh waktu tiga menit atau sekitar 1 kilometer dari tempat kami menginap yang kebetulan tak jauh dari Pelabuhan Karimunjawa, untuk sampai di pintu masuk objek wisata ini.

Lokasinya berada di atas Hotel Karimunjawa Inn. Sehingga, akses masuk adalah melalui pintu gerbang Hotel Karimunjawa Inn.

Jam menunjukan pukul 16.55 WIB, tak berlama-lama kami pun langsung tancap gas menuju bukit melalui jalan selebar 5 meter yang masih dalam pengerjaan, sebagian sudah konblok dan sebagian masih berpasir. Sesampainya di titik pertama, terdapat tulisan besar KARIMUNJAWA INN, tentunya kami langsung menyawut gadget dan berpuas-puas ria mengabadikan pemandangan sunset yang aduhai.

Dari titik ini, terlihat pemandangan Pelabuhan Karimunjawa, dan pantai yang luas dan sangat indah. Udara pun sangat sejuk sore itu.

Bukit Karimunjawa Inn
Sunset dari Bukit Karimunjawa Inn
Sunset dari Bukit Karimunjawa Inn

“Di atas puncak masih ada lagi yang spektakuler dan ekslusif. Tersisa hanya 15 menit sebelum maghrib,” ucap salah satu dari kami.

Tak berlama-lama pula, langsung kembali tancap gas menuju puncak. Namun kali ini medan jalan lebih berat. Jalan masih berupa bebatuan dan tanah serta dengan kemiringan 70 derajat.

Solikin, salah satu pengendara sempat terjatuh dan hampir tergelincir, karena terburu-buru memburu sunset ditambah rasa penasaran yang tinggi. Beruntung, tidak sampai ada luka serius.

Karena lokasi hanya berjarak 15 meter, Solikin langsung secepat kilat bangkit, memarkirkan kendaraan, dan berlari menuju puncak bukit Karimunjawa Inn. Kami langsung menyambar gadget di saku celana masing-masing, dan mengekslporasi sepuas-puasnya seperti pengelana menemukan air karena kehausan di padang pasir.

“Masya Allah, indahnya, luar biasa sunset dari sini, benar-benar ekslusif, jadi merinding melihat pemandangan sunset dari sini, Ya Allah terimakasih bisa diperlihatkan alam indah di sini,” ucap Solikin sembari duduk di bawah patung kura-kura besar di bukit ini.

Di bukti ini, terdapat patung kura-kura, ikan hiu, dan nelayan yang sedang mengarungi lautan menaiki perahu sampan. Pemandangan ke arah barat terbentang luas pantai Karimunjawa yang terlihat membiru, langit mulai memerah, sedangkan matahari perlahan mulai tenggelam.

Sunset di Bukit Karimunjawa Inn
Sunset dari Puncak Bukit Karimunjawa Inn
Sunset Bukit Karimunjawa Inn
Bukit Karimunjawa Inn

 

Tak lama, suara adzan pun berkumandang. Kami pun harus menyudahi eksplorasi sunset indah maksimal di lokasi ini. Selanjutnya kembali tancap gas menuju penginapan.

Menurut pengelola Karimunjawa Inn, Suyanto atau akrab disapa Muh, mengutarakan, bahwa lahan ojek wisata ini adalah milik Pemprov Jateng yang kini masih dalam tahap pengerjaan.

Sebelumnya, sudah dilakukan observasi untuk menggali potensi wisata di area seluas 4 hektare ini. Dan menurutnya, keindahannya melebihi bukit lain yang ada di Karimunjawa semisal Bukit Love, Jatikerep, dan Joko Tuwo.

“Di sini aksesnya sangat mudah, dan dekat dari semuanya. Dekat pelabuhan, dekat pusat kota, dekat dengan penginapan-penginapan. Utamanya bagi tamu yang menginap di hotel Karimunjawa Inn,” ungkapnya.

Muh mengungkapkan, bahwa ke depan objek wisata ini akan dibuka untuk umum. Meski belum dibuka, ternyata sudah ada beberapa wisatawan utamanya tamu hotel yang mengunjungi lokasi ini.

“Saran kami, waktu yang tepat menikmati sunset di sini adalah pukul 06.00 atau kalau sore pukul 17.00,” katanya.

Setelah puas menikmati bukit Karimunjawa Inn, malamnya kami mengikuti agenda peluncuran program Festival Karimunjawa 2018 di Alun-alun. Nampak hadir ribuan orang duduk bersila menikmati sajian berupa tari-tarian dan Congrock Reagee Beach.

Menurut Urip SIhabuddin, adanya Festival Karimunjawa 2018, sebagai salah satu upaya untuk mendorong pertumbuhan jumlah kunjungan wisatawan di kepulauan tersebut.

“Kami mendorong agar wisatawan nusantara dan mancanegara bisa lebih lama tinggal di Karimunjawa. Sebab selama ini hanya 2-3 hari, maka kita dorong agar lebih lama lagi,” katanya.

Pria berkumis ini, sembari menyeruput kopi di teras Wisma Karimunjawa yang letaknya tepat di depan Alun-alun, mengutarakan, bahwa apabila wisatawan bisa lebih lama di Karimunjawa atau lebih dari tiga hari, maka akan berdampak positif pada perekonomian masyarakat setempat.

Maka, upaya yang dilakukan untuk memikat wisatawan lebih lama adalah dengan menggelar even-even dan pagelaran seni. Langkah kongkret yang dilakukan yakni dibuatlah Festival Karimunjawa 2018 ini.

Dalam Festival Karimunjawa 2018, mengangkat sejumlah kekayaan budaya dan tradisi lokal. Salah satu yang menonjol untuk masyarakat Karimun yang dikenal sangat religius, adalah adanya Festival Barikan Kubro.

Festival Barikan Kubro merupakan tradisi yang sudah dilakukan masyarakat Karimunjawa secara turun temurun, yakni sedekah laut dan ‘nyadran’ pada leluhur yakni untuk Sunan Nyamplungan atau Syaikh Amir Hasan juga Sayyid Abdullah.

Kepala Dinas Kepemudaan, Olahraga, dan Pariwisata (Disporapar) Provinsi Jawa Tengah, Urip Sihabuddin, menandatangani peluncuran program even Festival Karimunjawa & Go To Sail 2019, di Alun-alun Karimunjawa, Kabupaten Jepara, Sabtu (29/9/) malam. Program ini akan digelar tiap tahun.

 

Menurut cerita turun temurun, kedua tokoh ini adalah penyebar agama Islam. Kedua makamnya, yang berada di Pulau Karimunjaawa dan Kemujan, hingga kini juga dikeramatkan. Ulasan mengenai kedua tokoh ini, juga telah diulas tim Ansorjateng.net.

Terkait Barikan Kubro, kata Urip, sebenarnya Pemprov jateng telah mengajukannya untuk dimasukan dalam agenda even nasional. Namun ternyata Kementerian Pariwisata belum mengakomodasinya. Maka, pemprov melakukan inisiatif memasukannya dalam Festival Karimunjawa 2018 ini.

“Kami berharap tahun depan evennya lebih banyak lagi sehingga wisatawan mancanegara bisa lebih lama di sini,” tegasnya.

Dia menilai, jika wisatawan hanya disuguhkan wisata pantai saja maka ketika datang sekali hingga dua kali, akan cenderung bosan. Meskipun diakui, bahwa Karimunjawa memiliki keindahan alam bahari yang luar biasa dan patut diandalkan di Jawa Tengah.

“Maka diperlukan adanya hiburan yang bersifat atraktif. Harapan kami, ke depan akan ada festival-festival yang digelar dua bulan sekali di Karimunjawa, ini pasti menarik. Meskipun untuk yang rutin tahunan adalah Festival Karimunjawa 2018,” tandasnya. (MN Huda)

 

Tentang Ansor Jateng

Baca Juga

Di Desa Tertinggi Pulau Jawa, Tim KSN Disambut Ribuan Warga dengan Penuh Haru

Wonosobo, Ansorjateng.net – Tim Kirab Satu Negeri (KSN) yang sampai di Wonosobo disambut ribuan warga di Desa …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *