Katua Umum GP Ansor Yaqut Cholil Qoumas melantik pengurus PC GP Ansor Malaysia, Senin (16/11/2018).

 

Kuala Lumpur, Ansorjateng.net – Radikalisme agama menjadi ancaman serius bagi Nahdlatul Ulama. Tidak hanya itu, Indonesia pun akan terancam hancur jika radikalisme gagal diatasi.

Hal itu disampaikan oleh Ketua Umum GP Ansor Yaqut Cholil Qoumas saat di hadapan peserta Pelatihan Kepemimpinan Dasar (PKD) PC GP Ansor Malaysia di  Adamson Hotel Kuala Lumpur, Senin (26/11/2018).

Gus Yaqut, begitu dia akrab disapa, meminta kepada seluruh anggota Ansor maupuan Banser agar senantiasa mewaspadai gerakan radikal. Kelompok tersebut menganggap yang di luar kelompoknya sebagai musuh. Kelompok tersebut juga memiliki agenda untuk merebut kekuasaan.

“Seteklah berhasil merebut kekuasaan, kemudian mengganti ideologi negara menjadi khilafah islamiyah,” tutur Gus Yaqut.

Meski sebagai muslim, kata dia, dia menolak keras adanya radikalisme agama. Apalagi kelompok tersebut juga memiliki agenda untuk mengubah ideologi dan bentuk negara. Sebagai warga negara Indonesia, dia menolak negara Islam. Indonesia sebagai sebuah negara, terdiri atas berbagai keyakinan, tidak hanya muslim. Selain itu juga terdapat berbagai suku dan budaya yang ikut menyokong berdirinya negara.

Beberapa di antara tokoh NU, misalnya hadratusyaikh Hasyim Asy’ari, KH Wahab Chasbullah, KH Bisri Sansuri merupakan bagian dari tokoh pendiri bangsa. Mereka juga telah sepakat dengan bentuk negara kesatuan.

“Sangat tidak mungkin para kiai, apalagi sekelas Mbah Hasyim mengabaikan pertimbangan syar’i. Bentuk negara ini sudah berdasarkan pertimbangan syar’i ketika menyetujui bentuk negara. Lihat saja, apa yang tidak dilakukan negara dengan pertimbangan syar’i? Semua diurus, mulai dari UU Perkawinan hingga perbankan,” ujar Gus Yaqut.

Selanjutnya dia menjelaskan, jam’iyah NU didirikan salah satunya untuk memerdekaan Indonesia. “Kalau sekadar untuk mensyiarkan agama Islam maka tidak perlu mendirikan NU. Jaringan pesantren sudah cukup untuk mensyiarkan agama Islam dan NU,” katanya.

Sebab itu, NU didirikan untuk Indonesia. Sehingga jika ada yang mencoba mengganti kesepakatan rumah bersama, rumah yang nyaman untuk berdakwah ini dengan bentuk negara lain, seperti khilafah, maka kader NU yang harus pertama melawan.

Melawan kelompok radikal, kata dia, harus semua lini, baik di darat maupun udara.

“Melawan mereka dengan terus merawat jamaah kita agar tidak terpapar; memperluas jaringan NU, melakukan kaderisasi, dan memberi pemahaman kepada masyarakat lainnya atas fenomena massifnya gerakan radikal untuk mengubah bentuk negara menjadi khilafah. Itu kita lakukan baik secara langsung, maupun di dunia maya dengan aktif di media sosial.

Bagi kader Ansor, kata Gus Yaqut, para pengurusnya harus terus menerus melakukan kaderisasi. Seberat apa pun kaderisasi harus dilakukan, meskipun cuma lima orang.

Gus Yaqut memberi apresiasi tinggi atas atas semua aktivitas yang telah dilakukan dalam merawat dan mengembangkan NU, Ansor, Banser di Malaysia.

“Saya salut dengan sahabat semua yang telah merelakan waktu, tenaga, dan penghasilan, untuk merawat NU, termasuk mendirikan Ansor dan Banser di Malaysia,” kata Gus Yaqut.

Menurut dia, Malaysia adalah cabang GP Ansor ketiga di luar Negeri setelah Saudi Arabia dan Korea Selatan. Selanjutnya akan menyusul Taiwan, Jepang, Mesir, dan Hong Kong.

Dalam kesempatan itu Gus Yaqut mem-baiat dan melantik pengurus PC GP Ansor Malaysia. Terpilih sebagai ketua adalah Nur Alamin. Pelantikan disaksikan Sekretaris Jenderal PP GP Ansor Abdul Rochman, Ketua Khoirul, Wakil Sekjen Rifqi Almubarok, Kepala Densus 99 Asmaul Husna Banser Nurruzaman, dan Ketua PCI NU Malaysia Ihyaul Lazib.

Lebih jauh Gus Yaqut mengatakan, kader Ansor adalah harapan NU di masa depan, sekaligus masa depan NU.

“Jika kader Ansor dan Banser melangkah tidak benar dalam mengelola organisasi, maka NU di masa depan akan hancur, dan tidak dihargai kelompok lain,” pungkasnya. (gozali)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here