Foto: Lirboyo.net

Ansorjateng.net – Salat merupakan kewajiban bagi setiap Muslim. Sebagai ibadah mulia yang menghadapkan hamba pada penciptanya terdapat berbagai ketentuan saat menjalankannya. Salah satu syarat sahnya yaitu dengan menutup aurat saat salat. Lantas apakah salat seseorang sah jika pakaian yang dikenakan terdapat sedikit lubang?

Mari kita simak bersama. Dilansir dari NU Online, bahwa menurut ulama Mazhab Syafii menyebutkan ketentuan perihal penutup aurat. Begi mereka, penutup aurat adalah benda yang menghalangi warna kulit orang yang salat, sekali pun berupa lumpur atau air keruh yang melekat di tubuh. Tentu saja benda penutup aurat itu harus suci.

Ulama Mazhab Maliki memberikan catatan bahwa jika warna kulit aurat tubuh orang yang shalat itu masih tampak, maka kondisi itu sama saja dengan kondisi tanpa penutup aurat. Tetapi bila hanya menggambarkan warna kulit aurat, maka hal ini terbilang makruh.

وقال الشافعية: شرط الساتر: ما يمنع لون البشرة، ولو ماء كدراً أو طيناً، لاخيمة ضيقة وظلمة، ويجب عندهم أن يكون الساتر طاهراً، وقال المالكية: إن ظهر ما تحته فهو كالعدم، وإن وصف فهو مكروه

Artinya, “Ulama Mazhab Syafi‘i mengatakan bahwa syarat penutup aurat adalah benda yang mencegah penampakan warna kulit sekali pun ia hanya air keruh atau tanah, bukan kemah yang sempit dan kegelapan. Penutup aurat itu, menurut mereka, harus suci. Sementara ulama Mazhab Maliki, kalau tetap muncul warna kulit di balik penutup itu maka ia sama saja dengan tanpa penutup. Tetapi jika hanya menggambarkan warna kulit, maka itu makruh,” (Lihat Syekh Wahbah Az-Zuhayli, Al-Fiqhul Islami wa Adillatuh, [Beirut, Darul Fikr: 1985 M/1405 H], cetakan kedua, juz I, halaman 579).

Adapun ulama Mazhab Hanbali sepakat bahwa penutupan aurat merupakan syarat sah shalat. Tetapi penampakan sedikit aurat tidak membatalkan shalat dengan dasar praktik serupa oleh sahabat Amr bin Salamah riwayat Abu Dawud. Sementara ukuran terbuka sedikit atau banyak berpulang pada kelaziman di masyarakat.

وإن انكشف من العورة يسير، لم تبطل صلاته، لما رواه أبو داود عن عمرو ابن سلمة الذي كانت تنكشف عنه بردته لقصرها إذا سجد. وإن انكشف من العورة شيء كثير، تبطل صلاته. والمرجع في التفرقة بين اليسير والكثير إلى العرف والعادة

Artinya, “Jika aurat seseorang sedikit terbuka, maka shalatnya tidak batal sebagaimana riwayat Abu Dawud dari Amr bin Salamah yang terbuka selendangnya karena terlalu pendek saat sujud. Tetapi jika auratnya besar telihat, maka shalatnya batal. Ketentuan kecil dan besar berpulang pada adat dan kelaziman di masyarakat,” (Lihat Syekh Wahbah Az-Zuhayli, Al-Fiqhul Islami wa Adillatuh, [Beirut, Darul Fikr: 1985 M/1405 H], cetakan kedua, juz I, halaman 592).

Dari keterangan di atas, dapat ditarik kesimpulan, bahwa salat dengan sarung atau pakaian sedikit berlubang pada bagian aurat tidak berpengaruh atas keabsahan salat. Hal yang sama juga berlaku untuk salat dengan pakaian sedikit koyak kecil pada bagian lutut yang masih tertutup oleh benang-benang pakaian yang tersisa. Apalagi kalau pakaian sedikit bolong pada bukan bagian aurat.

Maka dari itu disarankan agar memakai pakaian yang tidak berlubang meski hanya lubang kecil saat salat. Hal itu demi menghindari kebimbangan atas sah atau tidaknya salat. (nu.or.id/Gozali)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here