Kendal, Ansorjateng.net – Kisah memilukan beredar di media sosial ihwal mayat diangkut dengan becak motor dari Batang menuju Kendal.

Belakangan diketahui sebagai jenasah Ibu Afiah (64 tahun) yang meninggal dalam perjalanan mencari tempat tinggal pasca rumah yang ditempati bersama anaknya habis masa sewa.

Terungkapnya kasus yang sempat menggegerkan warganet di Kendal sejak Sabtu (22/12/2018) malam itu berkat kesigapan Barisan Ansor Serbaguna (Banser) Satkorcab Kendal dan kepolisian setempat yang segera turun ke lapangan melakukan penelusuran.

Ketua PC GP Ansor Kendal, Muhammad Ulil Amri, mengatakan setelah memperoleh informasi yang viral di media sosial tersebut, malam itu pihaknya yang sedang menggelar Diklatsar Banser di Desa Sambongsari Weleri, segera menginstruksikan tim Banser untuk melakukan pencarian berkoordinasi dengan pihak kepolisian.

Upaya Banser dan kepolisian akhirnya membuncahkan hasil. Setelah melakukan pencarian semalaman hingga pagi, teka-teki itu akhirnya terpecahkan.

Sebagaimana disampaikan Kasatkorcab Banser Kendal, sesosok jenazah perempuan bernama Afiah (64) bersama dua pria muda, salah satunya putra almarhumah, yang membawanya menggunakan bentor ditemukan di Desa Karanganom, Kecamatan Weleri.

“Alhamdulilah, kami yang hidup ini bisa menunaikan tugas kemanusiaan untuk membantu saudara kita yang mendapatkan musibah, membantu anak almarhumah menunaikan kewajibannya untuk birrul walidain. Setelah dimakamkan, Insya Allah sahabat Ansor dan Banser mengadakan tahlilan sampai tujuh hari jika pihak keluarga berkenan,” katanya, kemarin.

Ulil menuturkan dari peristiwa tersebut, menjadi pelajaran yang berharga bagi kader Ansor dan Banser agar peka dan selalu sigap terhadap isu yang berkembang di masyarakat.

Dikatakannya, kader Ansor dan Banser dalam bergerak tidak sendiri-sendiri tapi dengan berkoordinasi sesuai jenjang komando organisasi.

“Yang kami lakukan itu atas dasar kemanusiaan, tak pandang apa agama dan status sosialnya, dengan mengedepankan prinsip ahlaqul karimah. Sekaligus sebagai kado untuk para ibu yang belum lama ini diperingati hari istimewanya,” ungkapnya.

Kapolsek Weleri AKP Abdullah Umar membenarkan penemuan jenazah yang sempat gegerkan warga akibat informasi berantai di media sosial. Pihaknya menurunkan tim anggotanya untuk melakukan pencarian bersama tim Banser yang sudah bergerak di beberapa titik.

“Terima kasih kepada sahabat Ansor dan Banser yang telah memberikan informasi sekecil apapun sebagai langkah antisipatif. Setelah tim kami berhasil menemukan, kami segera kabari sahabat Ansor dan Banser yang telah bersama kami melakukan pencarian semalaman hingga pagi hari,” terangnya.

Kronologi

Anak almarhumah Ahmad Zubaidi (23) mengaku membawa ibunya dari Desa Lebo, Kecamatan Grinsing, Kabupaten Batang karena rumah yang mereka tempati sudah habis kontrak. Dia bersama ponakannya membawa sang ibu yang sedang dalam kondisi sakit menuju Kendal dengan menggunakan bentor.

Nahas setelah tiba di Desa Salakan, Weleri, setelah maghrib, sang ibu didapati telah meninggal dunia.

Saat itu dia masih mencari-cari tempat di sekitaran Weleri untuk tinggal dia dan ibunya, tapi belum tahu akan ke mana karena di daerah asal orang tuanya ini mereka tak punya rumah.

Dia sempat berniat untuk memakamkan ibunya di desa itu, namun karena bukan warga setempat disarankan untuk melapor ke kepolisian.

Akhirnya dibawalah jenasah ibunya itu menuju Desa Karanganom, tempat di mana dulu keluarganya pernah tingga mengontrak. Dari informasi Zubaidi, almarhum ibunya memiliki saudara di Desa Purworejo, Kecamatan Ringinarum, Kendal, namun hingga pemakaman belum dapat dikonfirmasi.

Sanggahan Kades Lebo

Setelah viral di media sosial, yang menyebutkan bahwa almarhumah Ibu Afiah dan anaknya diusir dari rumah kontrakannya di Desa Lebo, Kecamatan Grinsing, Kabupaten Batang, karena tak sanggup membayar uang sewa, Sunardi selaku Kades setempat memberikan klarifikasi.

Pihaknya merasa terpojokkan akibat informasi sepihak tersebut, dan sekaligus masyarakat desanya mendapatkan imbasnya.

Dari penelusurannya, diketahui bahwa almarhumah bersama anaknya menetap di rumah H Sobirin. Mereka sudah tinggal di rumah itu selama hampir empat tahun. Oleh pemilik rumah kabar itu memang tidak diberitahukan kepada pemerintah desa, karena penghuni kontrakannya ini tidak memiliki identitas.

H Sobirin melakukan itu lantaran iba pada kondisi sang ibu yang sudah tua dan sakit-sakitan. Selama menempati rumahnya, dia juga tak pernah meminta uang sewa kecuali memang diberikan sendiri oleh penghuninya itu.

Soal kepergian almarhumah dan anaknya dari rumahnya itu, berawal dari perangai anaknya yang lain yang tidak disukai warga.

H Sobirin malah baru tahu ketika anaknya yang lain mendatanginya untuk memakamkan jenazahnya, sementara almarhumah sudah meninggalkan lokasi sehari sebelumnya bersama anaknya yang lain. Informasi ini dibenarkan oleh Ahmad Zubaidi, yang menyesalkan tindakan saudaranya itu.

Menanggapi hal itu, Ulil Amri mengatakan, yang terpenting saat ini almarhumah sudah diupayakan untuk mendapatkan perlakuan yang terbaik dalam peristirahatan terakhirnya.

Apapun yang dilakukan oleh anaknya hingga terjadi salah paham dengan warga, biarlah menjadi pelajaran, imbuhnya.

“Syukur masih ada anaknya yang telah membawanya ke sini, hingga dipertemukan dengan Banser, Polisi, dan warga yang sama-sama mengupayakan yang terbaik. Kita semua punya ibu, baik yang masih hidup maupun yang sudah tiada. Apa yang sama-sama kita lakukan ini, untuk membantu sang anak menunaikan kewajibannya untuk birrul walidain, dan sekaligus menjadi pelajaran bagi kita bersama untuk berbakti kepada orang tua,” pungkasnya.(Sulhanuddin/Hud)

1 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini