ilustrasi

 

Dalam sebuah perjalanan menuju Jepara saat hendak mengisi pengajian, Kiai Ali Yahya Lasem (alm) mobilnya diadang oleh seorang perempuan cantik yang tidak lain merupakan seorang pelacur. Perempuan itu mengadangnya saat mobil berhenti di traffic light. Kebetulan saat itu lampu merah sedang menyala.

Saat itu Kiai Ali Yahya duduk di samping sopir serta tidak mengenakan kopiah dan serbannya. Alhasil, Kiai Ali Yahya layaknya orang biasa. Kiai Ali Yahya ini memiliki paras tampan. Ketampanannya layaknya bule asal Australia. Mungkin saja, perempuan jalanan itu mengira bahwa yang dihentikannya memang benar-benar orang asing yang banyak uang.

“Malam Om,” kata perempuan itu.

“Iya malam,” jawab Kiai Ali.

“Ikutan dong Om, boleh ya…,” kata perempuan menggoda.

“O boleh, boleh, silakan masuk.”

Seketika perempuan itu masuk ke dalam mobil Kiai Ali. Saat di dalam mobil, perempuan itu mulai menggoda.

“Om mau ke mana? Butuh aku tidak? Aku temani sampai pagi ya”

“Ini mau ngaji di Jepara, tidak apa-apa. Silakan ikut saja,” timpal Kiai Ali sembari memakai kopiah dan serban yang tadi dilepas.

“Bapak ini kiai ya?. Maaf saya tidak tahu, sekali lagi maaf,” tutur perempuan penggoda dengan ekspresi ketakutan.

“Tidak apa-apa. Santai saja, Mbak. Sekali-kali ikut pengajian bagus itu,” kata Kiai Ali menenangkan.

“Tidak usah, Kiai, saya turun sini saja.”

“Tidak bisa, mbak. Kamu harus ikut, tadi kan sampean bilang mau ikut, jadi ya harus ikut.”

“Tapi kan saya tidak pakai jilbab, Kiai,”

“Gampang, nanti saya pinjamkan jamaah,” lagi-lagi Kiai Ali meyakinkan.

Untung saja saat itu si perempuan mengenakan pakaian sopan.

“Tapi saya malu, Kiai.”

“Lho, sampean jadi pelacur tidak malu kok, ikut pengajian malah malu, gimana sih?”

“Gimana ini, Kiai.” Perempuan itu semakin salah tingkah. “Saya takut, Kiai.”

“Sudahlah, santai saja,” kata Kiai kembali menenangkan.

Saat sampai di tempat pengajian, dengan sigap Kiai Ali meminjam jilbab ke salah seorang jamaah perempuan.

“Maaf Bu, bisa pinjam jilbab? Ini lho Bu Nyai lupa bawa jilbab.”

Secara, ibu yang diminta untuk meminjami jilbab rada kikuk. Mungkin dia berpikir, masak iya,seorang Bu Nyai sampai lupa bawa jilbab.

“Iya bisa,Kiai, sebentar saya ambilkan,” kata ibu itu sambil rada bingung.

Setelah memakai jilbab, lantas perempuan itu turun dari mobil. Kontan, jamaah perempuan langsung menyerbu perempuan itu. Jamaah itu lantas mencium tangannya secara bergantian. Mendapat penghormatan sedemikian rupa, perempuan itu langsung pucat. Lisannya kelu. Dia hanya bisa diam dari sejuta kata dan tubuhnya serasa kayu; kaku. Perempuan itu lantas dijamu dengan sangat istimewa. Tak lupa juga mendapat pelayanan dari jamaah dengan sebaik-baiknya layaknya Bu Nyai sungguhan.

Setelah pengajian selesai, sajian daharan dihidangkan. Tempat Bu Nyai ini hanya terpisah dengan antara kiri dan kanan dengan jamaah laki-laki. Jadi, Kiai Ali masih bisa melihatnya. Sebelum sajian daharan di hadapan perempuan itu dimakan, sebelumnya jamaah meminta barokah agar perempuan itu yang mendoakan. Kikuk? Pastinya. Untung saja dia masih hafal doa sapu jagad: Rabbana atina fiddunya…….

Pengajian telah selesai. Kali ini seperti saat kedatangannya. Ketika perempuan pelacur itu hendak pamit pulang, jamaah perempuan kembali antre mencium tangan pelacur sambil diantar sampai ke mobil.

Perjalanan pulang, di dalam mobil Bu Nyai dadakan itu menangis sejadi-jadinya. Dia merasa seperti sedang terkena musibah besar. Saat tangisnya mulai mereda, Kiai Ali kemudian melontarkan nasihat.

“Apakah sampean tidak melihat dan berpikir, tentang bagaimana cara orang-orang tadi memperlakukanmu, menghormatimu, mengerumuni, mengantarkan, dan mereka juga rela antre hanya dapat menciumi tanganmu satu demi satu, bahkan meminta barokah doa dari sampean. Padahal sebenarnya sampean itu siapa? Orang tidak lebih mahal dari sayuran kangkung, bayam, terong, dan lain sebagainya,” kata Kiai Ali yang kembali meruntuhkan air mata perempuan itu.

“Ketika sampean menjual sayuran kangkung, bayam, dan terong, sampean masih memiliki harga diri tetapi ketika menjual diri sampean sudah tidak lagi memiliki harga di hadapan Allah. Hari ini sampean mendapatkan nasihat yang mungkin adalah nasihat terbesar dalam hidup sampean, maka segeralah bertaubat dan memohon ampun sama Allah.Jangan sampai nyawa merenggut sebelum anda bertaubat.”

Setelah mendengar nasehat Kiai, Bu Nyai dadakan akhirnya berbicara walaupun masih sambil terisak,  “Terimakasih Kiai atas nasihatnya, dan berkah dari kejadian ini, mulai saat ini saya bertaubat dan akan berhenti dari pekerjaan laknat ini. Sekali lagi terima kasih, Kiai.”

Kisah ini menunjukkan bahwa tindak bijaksana seorang kiai bisa menyentuh hati seorang pelacur hingga bertaubat. Begitulah derajat manusia, hanya allah yang maha tahu. Semoga saja dapat istikamah dalam taubatnya.

Kisah ini diambil dari akun Hammim Hr (dosen mahasantri Mahad Aly Lirboyo semester VIII) (Rifqi Gozali)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here