Ansorjateng.net, Semarang – Ulama atau Kiai di kalangan Pondok Pesantren atau Nahdlatul Ulama, dikenal memiliki keilmuan keagamaan yang luas dan mendalam.

Berbagai pengetahuan keagamaan bersumber dari Alquran dan Hadist yang disampaikan ke umat pun, telah ditelusuri sumbernya, melihat konteksnya, serta bersumber dari referensi yang akurat dan dapat dipertanggungjawabkan.

Hal inilah yang membuat Kiai selalu jadi panutan umat dalam mencari petunjuk jalan hidup menuju jalan yang benar.

Hal itu disampaikan Syuriah PCI NU Australia, Prof Dr KH Nadirsyah Hosen atau Gus Nadir dalam acara Bedah Buku berjudul “Saring Sebelum Sharing” karyanya, yang digelar dalam rangka Tasyakuran Harlah NU ke-96, di Aula PWNU Jawa Tengah, Jalan Dr Cipto Semarang, Jumat (15/3/2019 malam.

Bedah Buku berjudul “Saring Sebelum Sharing” karya Syuriah PCI NU Australia, Prof Dr KH Nadirsyah Hosen atau Gus Nadir, yang digelar dalam rangka Tasyakuran Harlah NU ke-96, di Aula PWNU Jawa Tengah, Jalan Dr Cipto Semarang, Jumat (15/3/2019 malam.

Persoalannya, menurut Gus Nadir, sekarang banyak orang fasik datang membawa kabar bohong. Parahnya, kabar tersebut disebarluaskan di ruang publik. Celakanya, kabar bohong itu dipercaya oleh umat sebagai referensi terpercaya.

“Sekarang yang datang bawa kabar buruk tidak hanya orang fasik, tapi orang bersorban, tapi tidak bisa Tashrif, ini kan jadi repot. Kalau dulu track recordnya mudah menilai orang fasik, tapi sekarang tidak jelas, jadi berbahaya, dulu juga ada waktu untuk tabayun, sekarang langsung bombardir (bully) saja,” ungkapnya.

Berbeda dengan para Kiai sebelum menjawab pertanyaan umat, telah melakukan verifikasi sumber rujukannya, konteksnya, membuka kitab berjilid-jilid hingga berjam-jam, baru disampaikan ke umat atau dishare.

Acara Bedah Buku berjudul “Saring Sebelum Sharing” karya Syuriah PCI NU Australia, Prof Dr KH Nadirsyah Hosen atau Gus Nadir, yang digelar dalam rangka Tasyakuran Harlah NU ke-96, di Aula PWNU Jawa Tengah, Jalan Dr Cipto Semarang, Jumat (15/3/2019 malam.

“Maka kalau khazanah pesantren diterapkan, sebenarnya tidak akan ada kegaduhan akibat hoaks. Kita bisa cek dulu siapa yang pertama kali share, kemudian track record akunnya bagaimana. Ini menerapkan ilmu Mustholah Hadits. Maka kita mesti kembali ke khazanah kiai-kiai di pondok agar kita selamat,” tandasnya.

Dalam menjawab pertanyaan umat, Gus Nadir mencontohkan pengalamannya selama ini yang aktif di media sosial. Ketika ada pertanyaan dari netizen, ia harus mencari referensi dari buku-buku dan kitab-kitab berjilid-jilid, tidak serta merta melontarkan jawaban tanpa dapat dipertanggungjawabkan.

Menurut Gus Nadir, sudah saatnya pondok pesantren aktif di dunia maya. Berbagai khazanah klasik dan primer yang dikaji di pesantren disampaikan ke internet. Sebab jika tidak, masyarakat yang sedang belajar tentang agama akan kebingungan mencari referensi yang benar dan akurat.

“Semangat belajar mereka sedang tinggi, maka perlu kita buat konten-konten di Google sehingga ketika mereka mencari jawaban yang muncul adalah penjelasan dari Kiai, bukan penjelasan dari Ustad-ustad tidak jelas atau para artis yang baru hijrah,” tegasnya.

Persoalannya, hasil Bahtsul Masail yang biasanya dibahas di Pesantren sampai Subuh dengan menghadirkan kitab-kitab besar karya ulama, tidak mungkin disampaikan ke umat secara utuh. Sebab bahasannya terlalu panjang, sementara generasi millenial saat ini butuh informasi yang serba singkat.

“Maka dalam buku saya ini yang adalah mengenai jawaban dari pertanyaan-pertanyaan para netizen, saya bikin penjelasan dari hadits-hadits secara lebih singkat, hanya 15 paragraf paling banyak,” ungkapnya.

Di sisi lain, Gus Nadir juga berharap agar para Ulama dan akademisi membuat disiplin ilmu baru di kampus-kampus yaitu ilmu Mustholah Medsos dan ilmu Tafsir Millenial.

Adapun, dalam acara tersebut hadir para tokoh yaitu Rais Syuriah PWNU Jawa Tengah KH Ubaidillah Shodaqoh selaku Keynote Speaker, Ketua Tanfidziyah PWNU Jateng KH M Muzammil, KH Chalwani Purworejo, Prof Dr Yasir Alimi.(Huda/Ansor Jateng)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini