ANSORJATENG.NET, SEMARANG – Pimpinan Wilayah (PW) Gerakan Pemuda Ansor Jawa Tengah menggelar nonton bareng film ‘Bumi itu Bulat’ di Citra XXI Mal Ciputra Semarang, Kamis (11/4/2019).

Film yang tayang perdana di seluruh bioskop tanah air, mulai hari ini, merupakan garapan  rumah produksi kolektif, yakni Inspiras Pictures, Astro Shaw, GP Ansor, dan Ideosource Entertaintment.

Pada nonton bareng film ‘Bumi itu Bulat’ di Kota Semarang, hadir sejumlah jajaran pengurus wilayah GP Ansor Jawa Tengah, Satkorcab Banser Kota Semarang dan sekitarnya, yakni Kabupaten Kendal, Kabupaten Semarang, dan Kabupaten Demak.

Film ini menceritakan sebuah toleransi, dibumbui kisah romantis, kekeluargaan, persahabatan dan perjuangan untuk meraih mimpi.

Dibintangi oleh Rayn Wijaya, Febby Rastanty, Rania Putrisari, Tissa Biani, Mathias Muchus, Aldy Rialdy, Qausar Harta, Kenny Austin, Christine Hakim, Ria Irawan, Arie Kriting.

Cerita singkatnya, ada seorang remaja, bernama Rahabi (Rayn Wijaya). Ia memiliki seorang ayah yang juga seorang Banser (Mathias Muchus), bahkan memegang tongkat komando di suatu daerah. Rahabi juga memiliki grup Acapella dengan nama Rujak Acapella.

Kisah berawal, Rahabi tidak bangga dengan sosok ayahnya sebagai Banser. Alasannya, tidak banyak waktu untuk keluarga, karena sibuk menjalankan tugas-tugas organisasi.

Kemudian dalam kesehariannya di kampus, Rahabi bersahabat dengan personel Rujak Acapella yang memiliki latar belakang berbeda suku, maupun agama.

Grup ini kemudian ditawari untuk rekaman, namun ada satu syarat yakni harus memasukan seorang penyanyi terkenal yang sudah tidak aktif bernyanyi karena’hijrah’, bernama Aisha, untuk bergabung dalam grup.

Demi mengajak Aisha bergabung, Rahabi bersedia melakukan apapun yang diminta Aisha. Mulai dari mewawancarai Farah, dosen yang dipecat dari kampus karena menyebarkan paham kebencian hingga masuk dalam kelompok radikal.

Selain itu, Rahabi juga diminta membaca buku-buku yang mengarah ke paham radikal, dan berkumpul dengan kelompok anti kebhinekaan-pluralisme.

Dalam film Bumi itu Bulat, digambarkan sosok Aisha memiliki pandangan berbeda tentang Islam. Menurut Aisha, jika ada orang yang memiliki paham berbeda maka wajib dihindari. Aisha juga mengajak Rahabi untuk ‘hijrah’ bersamanya dan meninggalkan orang-orang terdekatnya.

Perubahan yang terjadi pada pribadi Rahabi, dirasakan oleh sahabat-sahabatnya termasuk sang ayah. Pada suatu ketika, Rahabi harus memilih apakah mengejar Aisha dengan misi mengejar mimpi masuk dapur rekaman namun berisiko kehilangan orang-orang terdekatnya.

Rahabi pun diingatkan oleh ayahnya untuk kembali pada jatidirinya. Yaitu semua perbedaan yang ada mulai dari cara pandang, bermacam suku serta agama adalah kekuatan bangsa Indonesia, bahwa perbedaan sebenarnya bukanlah alasan untuk saling membenci.

Hingga akhirnya, Rahabi sadar dan memilih meninggalkan Aisha, serta memahami alasan ayahnya selama ini waktunya kurang untuk keluarga. Bahkan akhirnya dengan bangga menyebut ayahnya seorang Banser adalah sebagai Super Hero.

Para penonton film penayangan perdana kali ini, banyak yang terharu. Bahkan ada seorang mahasiswi Universitas Negeri Semarang (UNNES), Aeni, menangis tersedu saat keluar dari ruang bioskop.

“Recomended banget ini, film ini mengajarkan kita tentang toleransi, memberikan banyak pelajaran khususnya untuk anak millenials. Apalagi kita sebagai masyarakat Indonesia yang kaya akan keberagaman. Maka jangan mudah terprovokasi oleh oknum-oknum tak bertanggungjawab. So, rugi kalau enggak nonton,” ungkap Aeni.

“Film Bumi itu Bulat sangat menginspirasi. Sangat layak untuk untuk ditonton, karena ini bukan hanya tontonan tapi juga tuntunan. Film ini mengajarkan kita bagaimana kita dalam melihat perbedaan tidak jadi alasan perpecahan, persatuan adalah hal utama,” ungkap pengurus GP Ansor Jateng, Taufik Hidayat SH MH.

Bangga pada Banser

Adanya film ini, juga membuat seorang anggota Banser dari Kabupaten Semarang, Langgeng, yang juga ikut nonton bareng, semakin bangga menjadi bagian dari keluarga besar GP Ansor.

“Saya sampai terharu, saya bangga jadi Banser, saya tidak akan malu mengatakan saya Banser,” tegas Langgeng.

Ketua PP GP Ansor yang juga Korwil GP Ansor Jateng-DIY Mujiburrohman atau terkenal dengan panggilan BANG DORENG, juga punya kesan tersendiri dari film ini.

“Ini film yang menyejukkan di tengah derasnya hujatan fitnah dan provokasi menjelang Pemilu. Film yang menginspirasi untuk tetap happy dengan perbedaan,” ungkap Gus Mujib.

Ketua Umum PP GP Ansor H Yaqut CHolil Qoumas mengungkapkan, film ini menyuguhkan apa yang akhir-ankhir ini mulai terkikis dari bangsa ini, yakni Toleransi.

“Toleransi adalah salah satu tiang kokoh untuk besarnya bangsa ini, bangsa Indonesia yang sangat majemuk, yang sangat beragam, adat, budaya, dan agama,” tuturnya.

Film Bumi itu Bulat adalah hasil kerjasama antara GP Ansor, Inspiras Pictures, Astro Shaw, dan Ideosource Entertaintment. Dan Alhamdulillah, Astro akan mengedarkan film ini di bioskop negara Malaysia.

“Kami menghadirkan film ini sebagai ikhtiar kecil untuk selalu menabur semangat toleransi untuk anak muda Indonesia. Sekali lagi, toleransi adalah udara agar anak cucu kita kelak tetap menghirup udara kedamaian, saling menghormati dalam ragam perbedaan,” jelas Gus Yaqut, Panglima Tertinggi Banser.(Ansor Jateng/Huda)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here