SK NU eks Karesidenan Pati dan Semarang

Ansorjateng.net, Kudus – Kiai merupakan sosok sentral dalam sebuah pesantren. Keberadaannya menjadi sangat penting dalam kehidupan sosial. Maka, tidak jarang hampir setiap lapisan masyarakat membutuhkannya.

Namun, apakah menyangka, di balik seorang kiai terdapat sosok yang tidak tampak di permukaan tapi jasanya sangat penting dan bermakna. Yakni sopir kiai. Jamak dilihat, ketika seorang kiai menghadiri suatu undangan pasti didampingi oleh santri yang merangkap sebagai sopir.

Sopi-sopir yang sangat berjasa atas mobilitas kiai ini akhirnya membuat sebuah kelompok yang diberi nama “Sopi Kiai Nusantara” disingkat menjadi (SK NU). Kelompok ini sudah besar. Se-Indonesia sudah ada sekitar 800-an anggota. Mereka terdiri atas sopir kiai yang ada di Pulau Jawa maupun di luar Jawa.

“Kalau Jawa sudah banyak, di Jawa Timur ada anggota yang merupakan santri sekaligus sopir dari kiai Lirboyo maupun Ploso dan pesantren besar lainnya. Begitu juga di Jawa Tengah dan Jawa Barat,” kata Muhtaris, penasehat SK NU.

Keberadaan mereka yang bernaung di bawah payung SK NU dinilai sangat bermanfaat. Saat bertugas mengantar kiai ke salah satu tempat misalnya, mereka akan menghubungi rekan sesama sopir kiai dari daerah tujuan. Di situ mereka bisa saling komunikasi, manakah jalan yang paling cepat untuk dilewati, atau manakah jalan alternatif agar mobil yang dikendarai sang kiai tidak terjebak macet.

“Kami biasanya saling komunikasi. Misal mau ke Magelang, kami menghubungi sopir Kiai Yusuf Chudlori. Sesampainya di sana, kalau mereka sedang tidak ada tugas mengantarkan kiai, mereka akan bertemu dan menjamu sesama sopir kiai,” ujar lelaki yang sudah 1,5 tahun menjadi sopir KH Ulil Albab Arwani.

Ikatan yang terbangung sesama sopir kiai ini sangat kuat. Beberapa kali digelar pertemuan skala nasional. Terakhir yakni di Pesantren Al-Falah Ploso Kediri. Belakangan, puluhan sopir kiai di eks-Karesidenan Pati dan Semarang menggelar pertemuan sekaligus halalbihalal di Gedung Tanwirul Qulub Desa Getaspejaten, Kecamatan Jati, Kudus, Kamis (27/6/2019) malam.

Di gedung yang menjadi rintisan pesantren milik Gus Ferry, cucu KH Sya’roni Ahmadi Kudus, mereka berkumpul. Layaknya santri pada umumnya: doa, tahlil, ngopi, makan bersama, dan tak lupa mereka juga saling lempat gurauan sesama sopir.

“Kalau kumpul begini kami saling tukar pengalaman. Juga saling melempar joke gurauan ala santri,” tutur Robi, sopir KH Syarofuddin Ismail Qoimas, Rembang.

Sedianya jumlah anggota SK NU di Karesidenan Pati dan Semarang sudah terdapat 100 anggota. Namun, saat berkumpul mereka tidak semuanya bisa datang. Karena, bagi mereka, yang terpenting adalah khidmah kepada kiai. Baru, kalau ada waktu luang mereka akan menjalankan aktivitas di luar temasuk kongkow bareng teman sejawatnya.

“Jargon kami, Ngiwa Nengen Nderek Kiai (ke kanan maupun ke kiri tetap ikut kiai),” pungkas Muhtaris. (Gozali)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here