ANSORJATENG.NET , SEMARANG – Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi memberikan pujian kepada Gerakan Pemuda (GP) Ansor Kota Semarang dalam gerakan melawan radikalisme.

Salah satunya dengan Simposium Kebangsaan bertema “Pencegahan Radikalisme di Media Sosial” di Gedung Aula Balai Pemuda Kota Semarang, Minggu (22/9/2019).

“Apa yang dilakukan Ansor ini sebagai bukti kecintaan terhadap NKRI,” ucapnya.

Menurut Hendi, sapaannya, dalam sejarahnya, istilah media sosial sudah muncul jauh sebelum era teknologi berkembang.

Dulu, katanya, media sosial umumnya berkembang di sebuah wilayah di pinggir sumur, di mana banyak orang berkumpul dan saling menyampaikan gagasannya.

Kata Hendi, mezkipun saat ini istilah media sosial merujuk pada hal berbeda, tapi substansinya tidak beda. Sama-sama tempat untuk saling bertukar pendapat.

Hanya saja, lanjut Hendi, yang jadi masalah adalah banyaknya netizen yang tidak bertanggung jawab, melakan provokasi dan menyebar hoaks demi memuluskan aksinya.

“Ini yang bahaya, kita harus segera antisipasi,” ujarnya.

“Kalau menurut saya, menangkal hal-hal hoaks di medsos itu kan gampang. Tinggal kalau ada yang ngomong keliru, ayo semua serang dengan argumen yang lebih kuat. Kita luruskan,” imbuh Hendi.

Dia melanjutkan, perlunya memberi pemahaman, utamanya kepada generasi muda sebagai pengguna media sosial terbanyak.

Bahwa bagaimana bahaya radikalisme itu serta apa yang harus dilakukan warga negara untuk Pancasila dan NKRI.

Dalam kesempatan tersebut Hendi mengaku miris dengan persoalan radikalisme. Sebab, semakin hari pertumbuhannya semakin banyak.

“Bahkan tidak hanya di tingkat anak muda, tapi satu-dua orang profesor di perguruan tinggi negeri juga diduga ikut terpapar,” ungkapnya.

“Maka yang paling penting sekarang, baik dari unsur pemerintah maupun masyarakat, untuk menanamkan rasa cinta bangsa sebagai warga negara terhadap NKRI dan Pancasila,” tuturnya.

Untuk diketahui, Simposium Kebangsaan menghadirkan sejumlah tokoh dan pakar di bidangnya, yakni Anggota Presidium Mafindo Farid Zamroni M, Penulis Buku Daulah Islamiyah dalam Alquran dan Assunnah M. Najih Arromadhoni, Ketua BANAAR Kota Semarang Abdurrahman, dan Sekretaris PW GP Ansor Jateng Fahsin M Faal.

Ketua GP Ansor Semarang Rahul Saiful Bahri menjelaskan, simposium bertujuan untuk memberikan pemahaman secara komprehensif mengenai bagaimana paham radikalisme disebarkan melalui media sosial.

Rahul menegaskan, GP Ansor Kota Semarang akan terus berkomitmen menjaga keutuhan Pancasila dan NKRI.

“Siapapun yang ingin memecah belah dan mengusik dasar negara Pancasila menjadi Khilafah, maka kami akan jadi garda terdepan untuk menolaknya,” tandasnya.

Menurutnya, persoalan radikalisme melalui media sosial tidak bisa dianggap sepele.

Meski para pemuda yang nasionalis lebih banyak, tapi gerakan radikalisme di medsos terbilang massif dan yang memberikan kontranarasi radikalisme masih minim.

“Jika profokasi yang disebar oleh kelompok intoleran kemudian diterima oleh orang yang belum memiliki bekal keagamaan yang mumpuni, maka akan rentan terpapar. Ini sangat bahaya,” bebernya.

Gerakan radikalisme tidak bisa diselesaikan sendiri. Menurutnya, banyak pihak yang juga harus turut berperan.

Apalagi, kata Rahul, selain di media sosial, radikalisme juga sudah mulai masuk ke ranah pendidikan.

“Gerakannya di dunia nyata juga sudah sangat mudah kita temui, dari mulai tingkat TK, sekolah dasar, kemudian sekolah menangah melalui organisasi rohisnya, belum lagi di kampus-kampus. Maka kita harus bersama-sama mengantisipasi,” ungkap Rahul.(*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini