Oleh: Hamzah Sahal

Malam Jumat pekan kemarin, bersama tiga teman saya sowan Gus Ubaid –KH Ubaidillah Shodaqoh– di Pesantren Al-Itqon, Semarang, Jawa Tengah. Ini kali pertama saya ke rumahnya dan bicara dari dekat dengan leluasa. Tapi saya sudah cukup lama mengenalnya. Karena ia tidak mengenal saya, maka saya memperkenalkan diri kembali:

“Kulo Hamzah, Gus, yang buat kopi njenengan kalau ke Lakpesdam, Jalan Haji Ramli Tebet. Sebelum rapat dimulai dan menunggu Pak Nasihin Hasan atau Mba Lilis datang, saya yang nemani njenengan ngopi-ngopi. Sekitar tahun 2008.” Mendengar silat lidah saya yg menyebut lembaga besar lengkap dengan lokasinya, nama-nama ngetop, serta tahunnya, Gus Ubaid senyum-senyum, sambil nyumet rokok. Mungkin ia mbatin begini, “Wong Jakarta ne bab memperkenalkan diri ra ono tandinge.”

Saya hampir tidak percaya yang saya datangi rumah seorang Rais Syuriah Jawa Tengah, yang begitu aktif dan bagus memimpin NU Jawa Tengah. Ruang tamu sederhana di rumah kecil. Perasaanku masuk rumahnya persis seperti perasaan pertama kali masuk rumahnya Mas Ulil: rumahnya intelektual besar kok cuma begini.

“Iki tenanan gak kiai-kiai, moso punya rumah begini doang?” Itu gumamku kalau memasuki rumah seorang tokoh besar tapi rumahnya ala kadarnya. Saya memang orang yang punya pandangan bahwa rumah tokoh hebat itu harus kuat dan bagus, juga mobil-mobilnya. Pandangan ini muncul sejak gempa Jogja. Para pemimpin hebat tidak boleh wafat karena bencana alam gempa bumi atau banjir. Maka rumahnya harus kokoh dan tidak perlu mengungsi jika banjir. Begitu juga kendaraannya. Sudah terlalu banyak ulama-ulama NU wafat di jalan karena kecelakaan. Ini ndak boleh terjadi lagi. Salah satu ikhtiar mobil harus yg memiliki keamanan yg kokoh. Tidak boleh, kiai muda hebat kok pakai Honda City yang umurnya sudah 20 tahun, kilometernya hampir 300 ribu. Pakai BMW minimal X3 gitu loh.. ojo nemen-nemen ne riyadloh. Pemimpin itu harus aman dan tidak boleh terlihat memprihatinkan. Kalau gak, umat yang repot.

Aku ndak tahu Gus Ubaid mobilnya apa. Semoga saja lebih bagus dari rumahnya. “Gus Ubaid itu rais syuriah heubaat. Tapi ya orangnya gitu, gak mbejaji,” begitu kata ayah mertuaku.

Gus Ubaid ini mungkin penjelmaan almagfurlah Kiai Sahal. Faqih, open (terbuka), opèn (merawat), tegas, teliti, egaliter, dan pergaulannya luas. Fisiknya saja mirip-mirip Kiai Sahal. Kalau istilahnya Gus Ghafur tadi malam, wajahnya ora koyok wajah ulama.

Rokok yang sepertinya nglinting sendiri ndak berhenti-berhenti. Dan di sini saya tahu fungsi rokok, yaitu seperti mengatur nada kapan bicara kapan mendengar. Saya yang bukan siapa-siapa, itu didengarkan Gus Ubaid. Dan rokok sepertinya mengkondisikan suasana obrolan yang seimbang. Saya sendiri tidak merokok, benci dengan rokok. Tapi toleran dengan perokok.

Di tengah asik ngobrol, seorang ODGJ (orang dalam gangguan jiwa) masuk. Kami semua berhenti bicara. Saya deg-degan. Mau apa ini orang masuk rumahnya kiai. Celana pendek, kaki kotor sekali, sarung dilingkarkan ke leher. Dia mendekati kami. Saya makin deg-degan. Tapi pelan-pelan tenang, karena Gus Ubaid tenang. Tapi kemudian berdebar lagi, telunjuk si ODGJ mengarah ke cangkir teh milik Gus Ubaid.

Sejurus kemudian Gus Ubaid memberikan cangkirnya ke dia dengan ringan. Tamu tak diundang menghabiskan teh Gus Ubaid. Kemudian berlalu begitu saja. Kami melanjutkan kembali obrolan. Gus Ubah sambil ngileng-ngileng lantai yg diinjak tamu tadi: ada najis gak. Syukurlah hanya meninggalkan pasir.

Tapi tidak lama, si ODGJ muncul kembali. Obrolan kami berhenti lagi. Saya deg-degan lagi, “mau apa lagi ini?”

Rokok. Ya, dia minta rokok. Telunjuknya mengarah ke bungkus rokok. Tapi itu cuma bungkus. Rokok sudah habis. Gus Ubad menyodorkan rokok lintingan.

Sikap ramah para kiai pada orang-orang ODGJ sudah kerap saya saksikan sendiri. Bahkan sebagian kiai merawatnya dengan baik, memandikan, memberi baju, dan lain-lain. Beliau-beliau ini menjalani laku Nabi Isa alaihis salam, yang sungguh kinasih pada orang-orang yang membutuhkan.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini