Sebelum era ditemukan internet yang bisa melalukan siaran langsung atau live di berbagai kegiatan, Nabi termulia Muhammad SAW telah mengabarkan bahwa ada amal umat manusia yang disiarkan secara langsung kepada Nabi Muhammad, yaitu berupa amal berselawat. Jadi, jauh sebelum internet ditemukan, Nabi Muhammad mengabarkan bahwa ada salah satu aktivitas beribadah kepada Allah itu disiarkan langsung disaksikan oleh Nabi Muhammad SAW. Meskipun orang berselawat itu ada di Semarang atau di Jakarta atau di Kalimantan.

Kebenaran hal tersebut terdokumentasikan dalam hadis:


عن ابى بكر قال رسول الله صلى الله عليه وسلم اكثر الصلاة علي فان الله وكل بي ملكاً عند قبري فإذا صلى علي رجل من أمتي فقال لي ذلك الملك: يا محمد إن فلان ابن فلان صلى عليك الساعة (رواه الديلمي وإسناده حسن)  

Artinya dari Abu Bakar bahwa Rasulullah SAW bersabda: perbanyaklah membaca selawat kepadaku. Sebab, Allah menugaskan malaikat dekat kuburku. Setiap ada dari salah satu umatku membaca selawat kepadaku, maka malaikat tersebut langsung siarang langsung laporan kepada Nabi Muhammad: Wahai Nabi Muhammad, detik ini saat ini salah umatmu sedang berselawat kepadamu.

Walaupun jasad Nabi Muhammad, kuburan Nabi Muhammad berada di Madinah di mana pun umatnya berselawat saat itu juga live siaran langsung selawatnya disaksikan oleh Nabi Muhammad. Jadi sebelum era ditemukan kecanggihan teknologi internet ada salah satu ibadah yang disiarkan langsung dilakukan umat Nabi Muhammad dan disaksikan langsung oleh Nabi Muhammad. 

Oleh karenanya, maka di hari Jumat kita sebagai umat Nabi Muhammad sudah semstinya memperbanyak selawat kepada beliau.
Kini kita hidup di era kecanggihan teknologi dan yang fenomenal adalah internet dengan beragam aplikasinya. Bukan hanya dikonsumsi oleh kalangan perkotaan, tapi juga hingga dinikmati warga hingga di pelosok pedalaman. Internet adalah media untuk kebaikan atau kejahatan. Seperti halnya senjata tajam bisa digunakan untuk melakukan hal-hal berguna atau digunakan untuk melakukan kejahatan. Tergantung manusia yang menggunakannya.

Oleh karena itu, jika dalam kitab-kitab turats atau kitab fikih klasik ditegaskan berbagai macam dosa di antara dosa tangan untuk memukul orang lain, maka di era teknologi internet ada satu dosa yang belum disebutkan dalam kitab-kitab fikih klasik. Apa itu dosa tangan? Yaitu di era internet sering sekali tidak menyadari jari-jari menulis atau share ujaran kebencian, caci maki, hingga fitnah dan adu domba.

Begitu juga indra penglihatan dalam kitab fikih terdahulu disebutkan, bahwa mata kita dapat dosa jika melihat lawan jenis dengan unsur sahwat atau kemaksiatan. Tetapi di era internet ini bisa bertambah bentuk kemaksiatan mata kita jika hati kita tidak ingkar ketika melihat konten-konten kebencian. Konten-konten tidak ilmiah yang bertentangan dengan norma-norma agama.
Kita bisa membayangkan, andaikan di zaman Nabi Muhammad SAW sudah ada internet. Sudah dipastikan, orang-orang yang belum beriman kepada Rasulullah SAW akan menggunakan jaringan internet dengan beragam aplikasinya untuk menghadang dan memusuhi perjuangan Nabi Agung Muhammad SAW disertai dengan rekayasa kejahatan mereka. Juga dapat dipastilam ketika zamam Nabi Muhammad sudah ada jatingan internet maka akan bertambah beredar dan viral jutaan hadis palsu atau hoaks yang diatasnamakan hadis bersumber dari Rasulullah SAW.

Contoh hoaks di masa itu, kita lihat di kitab sejarah Tarikh al-Rusul wa al-Muluk  yang dikenal dengan kitab Tarikh Thabari karya Imam Abi Ja’far bin Jarir al-Thabari dalam volum 3 jilid 3 halaman 281 dalam kitab tersebut tercatat ada hoaks akbar yang sabgat terkenal sepanjang masa hingga kini. Yaitu seorang pembohong yang bernama Musailamah al-Kazab yang memproklamirkan dirinya adalah seorang nabi dan memalsukan sebagian surat Alquran. Namum saat itu belum ada jaringan internet. Sehingga skenario kejahatan dan kebohongan yang dilakukan oleh Musailamah atas nama agama ketika itu tidak bisa mudah viral di ruang publik.

Di sisi lain andaikan di era Nabi Muhammad sudah ada internet sungguh beruntung manusia seluruh dunia. Bayangkan, seandainya zaman Nabi Muhammad sudah ada internet maka setiap saat manusia bisa mengikuti pengajian online dari Masjid Nabawi Madinah. Memandang wajah lemah lembut, wajah yang menyejukkan Baginda Muhammad SAW yang dikelilingi para sahabatnya dalam menyiarkan Islam rahmatan lilalamin.
Orang-orang di seluruh dunia bisa berposisi sebagai perawi atau periwayat hadis Nabi dengan mengikuti pengajian online atau langsung dengan jaringan internet. Atau bahkan mungkin orang seantero jagat bisa berposisi sebagai sahabat Nabi.

Kini kita hidup di era yang kerap disebut era kecanggihan teknologi. Kecanggihan teknolohi wajib disyukuri utamanya generasi muda bangsa dengan cara harus optimal diarahkan dan dibimbing agar mampu memanfaatkan kemajuan teknologi internet sebagai sarana penibgkatan berbagai bidang. Bukan hanya konteks ilmu pengetahuan, tetapi juha sebagai media peningkatan religiusitas dan intelektualitas optimalisasi beribadah dan keaslian Islam yakni dakwa ajaran Islam rahmatan lilalamin. Agar jangan sampai kemajuan teknologi berdampak negatif pada kerusakan moralitas dan kemerosotan kesalehan publik.
Karena fenomena yang terjadi sungguh memprihatinkan akibat salah sarah dalam memfungsikan internet justru banyak henerasi muda yang terkwna dampak negatif. Sungguh memprihatinkan.

Kita pun patut mengamalkan kaifah fikih yang sangat terkenal berbunyi:


للوسائل حكم المقاصد

Yaitu bagi suatu sarana hukumnya adalah sama dengab apa yang menjadi maksud dan tujuannya. Internet adalah suatu media maka jika kita bertujuan baik bermain internet menjadi hal bernilai ibadah. Setiap hal tergantung maksud dan tujuannya. Bermain internet tujuannya adalah dakwah. Maka satu gerakan jari di atas ponsel bernilai pahala. Maka sebaliknya jika tujuan kejahatan maka bermain ponsel bisa menghasilkan dosa.

Niat ikhlas menyebarkan kebaikan dan dakwah yang rahmatan lilalamin disertai ingat adanya malaikat rakib dan atid yang selalu memantau secara langsung memantau setiap kegiatan manusia di alam nyata maupun di dunia maya, niscaya hal tersebut bisa mengarahkan kita ke jalan yang benar dalam berinteraksi sosial di dunia nyata maupun maya.

Naskah ini merupakan isi khutbah dari DR KH Nasrulloh Affandi Lc M.A. di Masjid Agung Jawa Tengah Jumat 12 November 2021 atau 7 Rabiulawal 1443 hijriah

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini