Ansorjateng.net, Semarang – Mendekati pelaksanaan muktamar NU di Lampung, sebagai Nahdliyyin tentunya kita medoakan, semoga agenda besar dan terpenting di NU tersebut berjalan secara damai, penuh kesejukan, menjunjung tinggi nilai-nilai musyawarah dan kebersamaan, Amiin.

NU adalah entitas baru di abad 20 yang menaungi lebih dari 100 juta Nahdliyyin yang tersebar di seantero Nusantara hingga pelosok belahan bumi. Membawa ajaran ahlus Sunnah Wal Jamaah yang moderat selama hampir 1 abad di Indonesia mampu menjadikan NU menjadi energi penggerak keislaman sekaligus kebangsaan. NU perlahan tapi pasti tidak hanya diperhitungkan di tingkat nasional, namun masuk dalam peta peran organisasi keislaman tingkat global. Tentunya ini sejalan dengan prinsip ukhuwah basyariyah, ukhuwah wathoniyyah dan ukhuwah Islamiyyah yang selama ini menjadi pondasi NU dalam menentukan gerak strategis hingga programatis.

Dunia hari ini membutuhkan pemodelan organisasi keagamaan yang menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan yang senafas dengan semangat kebangsaan. Agama sedang berada pada titik ujian yang berat akibat makin menguatnya semangat ateisme, agnostitisme, liberalisme, konsumerisme, komunisme hingga fundamentalisme. Banyak yang mempertanyakan dan menuduh agama sebagai sumber konflik dan tidak adaptable terhadap kemajuan teknologi serta tidak peduli kerusakan alam.

Selama ini NU berusaha menjawab tantangan zaman dengan terus berusaha menghasilkan produk pengetahuan dan berbagai program untuk melayani Nahdliyyin. Mungkin belum semua Nahdliyyin terlayani, namun upaya maksimal yang sudah ditorehkan NU terbukti memberi warna bagi kehidupan berbangsa dan bernegara. Track record NU menjadi bagian dari entitas yang menjaga keberagaman dan keberagamaan tidak diragukan lagi.

Sebagai entitas yang memiliki pengaruh yang besar dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, sangat wajar bila banyak pihak memiliki kepentingan dengan NU. Ada juga kekuatan internasional berkepentingan menjadikan NU sebagai entitas yang mencontohkan praktek demokrasi di negara mayoritas muslim. Di sisi lain ada juga kekuatan internasional yang memandang NU sebagai penghambat bagi faham pasar bebas dikarenakan NU fokus pada keberfihakan ekonomi rakyat/ummat (lebih khusus Nahdliyyin).

Di tingkat nasional, kepentingan politik dan ekonomi selalu mewarnai dinamika NU. Politik kebangsaan yang ditawarkan NU seringkali dimanfaatkan oleh politisi untuk berebut suara warga NU. Preferensi politik warga NU dari pemilu tahun 1955 sampe sekarang belum pernah utuh ke satu partai. Hal ini menujukkan betapa dinamisnya suara politik warga NU. Dalam peta ekonomi nasional, sudah mulai terlihat munculnya kelas menengah baru di NU, namun secara umum masih berada di pinggiran.

Dinamika kepentingan lokal jauh lebih dinamis, mengingat tokoh NU lebih banyak tersebar di daerah. Berbagai isu lokal yang berkembang di masyarakat selalu memiliki keterkaitan dengan warga NU. ini sebenarnya merupakan potensi dan kekuatan NU untuk melakukan transformasi sosial dari grassroot.

Muktamar NU di Lampung bagi sebagian politisi, akan menentukan arah politik 2024. Dalam konteks kepentingan pengusaha, komitmen NU untuk mendorong kemandirian ekonomi, akan sangat mempengaruhi konfigurasi gerakan ekonomi rakyat ke depan.

Akhirnya, sebagai organisasi penerus Para Wali, NU akan menemukan momentumnya sendiri untuk tetap bertahan dan membangun berbagai inovasi sesuai tuntutan zaman, Semoga, Amiin.

Semarang, 16 November 2021.

(M Fadlil Kirom, Pengurus PW GP Ansor Jawa Tengah)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini