SEMARANG – Mengemban tanggungjawab besar tak bisa dijalankan oleh orang sembarangan, proses pejalanan hidupnya harus teruji.

Hal ini dirasakan betul oleh H Sholahuddin Aly yang saat ini mengemban amanah sebagai Ketua Pimpinan Wilayah Gerakan Pemuda Ansor Jawa Tengah periode 2017-2022.

Berasal dari sebuah desa kecil di Kabupaten Jepara, Sholahuddin atau akrab disapa Gus Sholah terlahir sebagai anak cenderung introvert yakni pendiam dan pemalu. Tapi siapa sangka, dalam perjalanan waktu dia tumbuh menjadi sosok yang aktif dan dikenal sebagai pemimpin yang mau turun ke basis untuk memastikan kaderisasi dan program PW Ansor Jawa Tengah berjalan lancar.

Gus Sholah lahir di Desa Banjaran (Banjar Agung) Kecamatan Bangsri, Jepara tahun 1980. Seperti anak pada umumnya saat itu di desa, ia biasa main di sawah dan bersekolah tanpa alas kaki atau bersepatu.

Kondisi sekolahan pada zaman itu yang serba terbatas, juga dialami Gus Sholah. Gedung Madrasah Ibtidaiyah (MI) tempatnya belajar, lantainya belum dikeramik. Begitupun saat di Madrasah Tsanawiyah (MTs), bangunan sekolahnya masih sangat sederhana.

“Nah, kebetulan bapak saya itu Kepala Sekolah MI, dan saya masuk sekolah itu termasuk usia dini. Kalau tidak salah saya umur 4 tahun, sampai saat Ujian Akhir itu umur saya termasuk paling muda,” ceritanya.

Gus Sholah kecil, tumbuh sebagai anak yang kurang pergaulan. Jangkauan area bermain dari rumah tidak lebih dari radius dua kilometer.

Saat masih di bangku MI, ia pernah mengikuti lomba cerdas cermat tingkat kecamatan dan lomba dokter kecil.

Sejak kecil pula, ia sudah mengenal Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) karena sering nimbrung kakak-kakaknya yang aktif di organisasi pelajar NU itu. Saat MTs, pernah bergabung Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS), sayangnya karena masih tahap rintisan sehingga kurang berkembang.

Seusai MTs, pria yang saat ini memiliki satu putri dengan pasangannya, Tita Suwarto yang adalah putri Bupati Cilacap Tatto Suwarto Pamuji itu, kemudian melanjutkan pendidikan jauh dari rumah di pondok pesantren Kecamatan Pecangaan Kabupaten Jepara.

“Saya sempet mondok, nggak kerasan, laju (pulang pergi), mondok lagi, enggak kerasan lagi, lalu saya ikut saudara,” jelasnya.

Bisa dikatakan, Gus Sholah belajar agama langsung dari sang ayah, KH Ali Hamim dan pamannya, KH Afif Zubaidi. Kebetulan, sang ayah dan pamannya merupakan perintis pondok pesantren di desa tersebut.

“Nah pondok itu awalnya Mushola yang didatangi banyak orang ingin menimba ilmu agama, karena semakin lama semakin banyak yang datang dan menginap, akhirnya difasilitasi kamar terus seperti itu hingga berdirilah sebuah Pondok Pesantren. Dua orang ini yang merintis madrasah dan pondok pesantren di kampung saya,” jelasnya.

Sosok ayahnya adalah inspirator bagi Gus Sholah. Sang ayah adalah sosok sederhana dan bersahaja yang tegas dalam berprinsip. 

“Saya malah tahu sejarahnya agak detail itu karena orang-orang kampung yang pernah jadi murid beliau. Jadi kampung saya itu termasuk daerah abangan belantara. Cerita salah satu murid generasi awal pondok itu, keberhasilan ayah saya membangun masyarakat karena selalu hadir di kematian orang kampung. Nah, itu mungkin yang menjadi magnet orang-orang untuk datang mengaji pada beliau,” ucapnya.

Singkat cerita, akhirnya Gus Sholah melanjutklan kuliah di Jurusan Fisika FMIPA Universitas Negeri Sebelas Maret (UNS) Surakarta, sebuah pilihan pendidikan yang langka di kalangan santri saat itu.

“Saya termotivasi dengan kakak saya yang saat itu mampu kuliah di Jogja. Jadi angan-angannya dulu kuliah ke Jogja. Tapi kemudian nasib berkata lain akhirnya saya malah diterima di UNS Solo jurusan Fisika FMIPA. Dan orang-orang di kampung saya tidak ada yang tahu kalau saya kuliah FMIPA UNS (Universitas negeri Sebelas Maret), ngertinya mereka ya saya kuliah agama,” kisahnya.

Keputusan kuliahnya tersebut didukung penuh oleh orangtua, karena saat itupun di madrasah yang diampu oleh ayahnya masih kesulitan merekrut guru berkompetensi pengetahuan umum terutama bidang studi IPA.

“Ayah saya itu termasuk orang yang mendukung saya untuk kuliah di jurusan umum karena sulitnya mencari guru mata pelajaran umum di madrasah yang didirikannya. Tapi, catatannya harus sambil mondok,” tuturnya.

Di Solo, Gus Sholah menemukan persoalan. Sebagai introvert, ia mengalami kesepian saat pertama kali mengninjakan kaki di kota ini. Sebab, ia tak memiliki saudara ataupun teman satupun.

Salah satu cara untuk membunuh rasa sepinya, dia memutuskan untuk ikut berorganisasi sambil melatih mental. Atas saran dari orangtua dan kakaknya, ia bergabung dengan Pergerakan Mahaisiswa Islam Indonesia (PMII).

“Tapi sejak awal saya ingin kuliah, memang organisasi yang ingin saya ikuti ya PMII, karena introduksi dari keluarga,” jelasnya.

Di PMII ia kemudian berproses hingga keasikan berorganisasi, memiliki banyak teman dan aktifitas. Gus Sholah benar-benar memanfaatkan organisasi untuk menempa mentalnya yang selama ini cenderung pendiam, tak terampil berbicara di depan banyak orang, pemalu, dan sulit mengungkapkan ekspresi.

Saat ada forum diskusi, ia berusaha mencari buku untuk referensi agar bisa menghangatkan suasana meski hanya bertanya. Begitupun saat ada seminar, ia mencari buku referensi agar berani bertanya.

“Saya mendorong diri saya untuk bertanya, walaupun saat bertanya saya deg-degan betul. Tapi, saya berusaha tidak perduli apa yang saya tanyakan yang penting tanya, saya bertekad ingin melatih mental,” tandasnya.

Di level berikutnya, ia mengelola kemampuannya dengan memastikan pertanyaan yang ia sampaikan sudah tepat. Cara mengetahui pertanyaannya tepat adalah dengan mencermati jawaban dari narasumber, yakni ketika jawaban dirasa sesuai sesuai dengan isi pertanyaan.

“Saya kemudian menaikkan level, bahwa saya harus bisa mengomentari penyampaian narasumber,” ujarnya.

Menurutnya, satu di antara cara yang membantu membuka jalan berpikir adalah kegiatan bedah buku. Karena dalam forum itu, hanya fokus pada buku yang dibaca dan menyimpan banyak referensi.

“Sahabat-sahabat di PMII Komisariat Kentingan UNS pandai-pandai menyampaikan pendapat dan berargumentasi, kepandaian mereka itu ditularkan kepada saya. Alhamdulillah berkat itu, saya bisa berproses hingga sejauh ini, saya sangat bersyukur sekali atas proses yang saya dapat,” ungkapnya.

“Saya masih ingat saat salah satu seminar yang mendatangkan Sri Bintang Pamungkas, beliau sedang menyampaikan demokrasi yang bobrok di era Orde Baru. Saat saya mengomentari beliau, beliau marah hingga ngomel,” kisah Gus Sholah menceritakan pengalaman usilnya.

Proses di organisasi hingga mengantarkan ia terpilih menjadi Ketua Umum Pengurus Cabang (PC) PMII Surakarta. Kemudian mendorong aktif di kepengurusan Pengurus Koordinator Cabang (PKC) PMII Jawa Tengah.

Dari sinilah, akses pergaulan semakin luas. Hingga akhirnya terpilih menjadi Ketua Umum PMII Jawa Tengah.

Namun, ia kembali menemukan masalah. Saat asik berorganisasi, ia cenderung abai dengan kegiatan kuliah. Padahal, sebagai mahasiswa jurusan Fisika FMIPA UNS setiap harinya harus bergumul dengan rumus-rumus, praktik di Laboratorium minimal tiga kali seminggu.

“Akhirnya saya sangat keteteran. Bahkan saya mendapat perpanjangan kuliah, namun akhirnya saya harus menerima kegagalan saya,” lanjutnya.

Menurutnya, hal itu sebagai risiko yang harus ditanggung ketika mengutamakan organisasi.  Dari persoalan itu, ia kemudian membuat tekad untuk hidup mandiri atau tak membebani orangtua.

“Saya berjanji kepada diri sendiri, bahwa saya masih punya hutang sarjana kepada orangtua,” tuturnya sembari berkaca-kaca.

Tapi ada hikmah yang diperoleh, Gus Sholah telah mampu  mengelola kekurangan dan kelebihan dirinya sendiri. Kepribadian yang dahulu pendiam, menjadi mampu aktif berbicara di depan forum terbuka, baik berbentuk diskusi terbatas mapun seminar.

“Saya berubah dari orang introvert itu butuh waktu, jadi saya menyadari betul kekurangan saya itu. Jadi saya ingat waktu ditunjuk untuk ikut lomba Khitobah (pidato) saat MTs itu saya keluar keringet dingin karena takut untuk ngomong,” paparnya.

Setelah sekian lama berproses di perguruan tinggi, Gus Sholah kemudian mengikuti NGO yang fokus di isu demokrasi pasca reformasi.

Gus Sholah diajak oleh Putut Gunawan untuk ikut mengawal partisipasi warga dalam demokratisasi pasca-reformasi. Di awal reformasi, demokrasi Indonesia masih berbentuk top down, perlu partisipasi publik agar dinamika demokrasi berkembang menjadi bottom up.

“Untuk bisa bottom up ini tidak mudah, agar partisipasi warga berjalan dengan baik itu warga harus berdaya. Dan saat itu kita sudah bergelut dengan jurnalisme warga. Bayangannya saat itu jika warga berani menyampaikan gagasan lewat media maka demokrasi akan berjalan. Jadi kami bergerak untuk membuka sumbatan-sumbatan demokrasi hingga akhirnya era internet ini begitu massif,” ujarnya.

Saat di NGO, ia pernah terlibat dalam panitia nasional jambore forum warga di Yogyakarta. Forum itu mengumpulkan para dampingan NGO kemudian membangun kesepahaman.

“NGO yang saya ikuti namanya Kaukus 17 plus-plus,” katanya.

NGO saat itu tentunya berbeda dengan tren NGO saat ini seiring orientasi lembaga donor yang menjadi Interational Agency. Dia menjadi institusi level internasional yang bisa mengoprasionalkan programnya sendiri.

Di NGO tersebut, Gus Sholah memilih mengurangi aktifitas organisasi kampus dan bertekad mengumpulkan uang guna melanjutkan kuliah. Beberapa tahun kemudian, ia kuliah di Fakultas Hukum Universitas Selamet Riyadi Surakarta.

“Saat saya semester Dua, ada senior yang mengajak saya aktif di GP Ansor. Kalau saya tolak tidak bisa, tapi kalau saya terima, bagaimana kuliah saya? Akhirnya saya berusaha bagaimana agar kuliah saya tidak keteteran karena saya berjanji agar lulus sarjana pada orangtua,” ungkapnya.

Kemudian, ia konsisten berorganisasi serta mengikuti proses kaderisasi di GP Ansor dari dasar. Hingga saat Ketua PW Ansor Jawa Tengah dimandatkan pada Sahabat Ikhwanuddin, ia ditunjuk menjadi Sekretaris.

“Dan pendek cerita pada periode berikutnya saya dipilih oleh sahabat-sahabat sebagai Ketua PW Ansor Jawa Tengah,” kisahnya kembali.

Di GP Ansor, ia merasa tertantang karena programnya berkesinambungan namun dengan founding mandiri. Dinamika yang terjadi pun sangat kompleks seiring dengan banyaknya anggota. Di Ansor pula, kita berinteraksi dengan banyak orang dengan berbagai latar belakang, banyak isu dan project tertentu serta tidak terikat dengan lembaga donor.

Hal inilah yang membutuhkan perhatian khusus serta kemampuan memanajamen leadership, terutama ketika awal menata ritme organisasi.

“Ketika semuanya sudah satu frekuensi, itu semuanya kayak auto pilot, contohnya soal kaderisasi. Dulu sistemnya sudah dibangun oleh senior saya dan sekarang sudah berjalan sendiri tinggal kita mengawasi, menjaga semangat agar capaian kita tidak menurun,” tuturnya.

Saat ini, seiring banyaknya jumlah kader GP Ansor, yang diperlukan adalah mengelola sumberdaya manusia (SDM) yang ada agar semakin berkualitas.

“Saya sampaikan kepada sahabat-sahabat, kita jangan hanya mengejar kuantitas, kita harus mengejar kualitas,” ujarnya.

Maka, di GP Ansor Jawa Tengah diberlakukan system screening untuk memetakan potensi calon kader.

“Alhamdulillah hari ini trendnya bukan kompetisi, tapi kolaborasi. Karena di Ansor yang pendidikannya pas-pasan juga banyak, akademisi tingkat tinggi juga banyak. Ini tinggal mengolaborasikan agar setiap potensi itu saling berkesinambungan,” tutup Gus Sholah. (Mushonifin)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini