KENDAL, ANSORJATENG.NET – Pemimpin yang baik akan menjadi inspirasi teladan bagi orang yang ia pimpin. Misbahul Munir, sosok Ketua Pimpinan Cabang (PC) Gerakan Pemuda (GP) Ansor Kabupaten Kendal adalah salah satu ketua yang menginspirasi. Dalam diri pria yang lahir pada 18 Februari 1982 ini ada religiusitas dan slankers. Ketuaku, inspirasiku.

Gus Misbah, sapaannya, lahir dari kalangan keluarga Nahdlatul Ulama (NU). Orangtuanya mendidik ala pesantren sehingga Gus Misbah sudah terbiasa dengan tradisi NU sejak kecil. Ayahnya bahkan sudah mengenalkan kajian kitab-kitab klasik (salaf,red) ketika ia mulai duduk di bangku sekolah dasar.

“Sore hari saya dan teman-teman belajar di MDA, Madrasah Diniyah Awaliyah yang ada di desa. Kebetulan bapak saya juga mengajar di sana (MDA),” katanya, Kamis (25/11/2021).

Gus Munir mengeyam pendidikan formal di Madrasah Ibtidaiyah (MI) NU Mustafidin Desa Wonosari Patebon Kendal, bersamaan dengan belajar di MDA NU Mustafidin. Saat itu, ia berjuang selayaknya santri kuno karena masih sempat berada di masa masa belum ada listrik masuk desa.

“Pagi dan sore sekolah, malamnya mengaji, waktu itu menggunakan penerang lampu dengan bahan bakar minyak tanah,” ungkapnya.

Setamat dari MI ia melanjutkan belajar ke MTs NU 03 Al Hidayah Kendal. Sekolah yang ada dibawah naungan Lembaga Pendidikan (LP) Maarif NU Kendal ini terletak di sebelah utara Masjid Agung Kendal. Kala itu ia dikenal sebagai siswa yang pendiam. “Waktu itu dikelola MWCNU (Majlis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama) Kendal yang dirintis oleh KH Ahmad Abdul Hamid Kendal pencipta salam penutup khas NU, Sayyid Hasan Al Hasni dan beberapa tokoh NU Kendal lainnya,” urainya.

Semangat menimba ilmu agama menuntun dirinya untuk melanjutkan belajar di Pondok Pesantren (Ponpes) Futuhiyyah Mranggen Demak sekaligus menyusul kedua kakaknya yang telah nyantri di pesantren yang terkenal dengan tarekat Qaditiyah wan-Naqsabandiyah tersebut. Dia sana ia menempa diri di Madrasah Aliyah Keagamaan (MAK), sebuah program khusus MA Futuhiyah 1 dan berhasil lulus tahun 2000 dibawah asuhan langsung KH. Muhammad Shodiq Lutfil Hakim bin Muslih, KH. Muhammad Hanif Muslih dan KH. Asnal Matholib bin KH. Utsman Mranggen. Semasa nyantri di Futuhiyyah, ia juga ikut Keluarga Santri Kendal (KESIK) sebuah organisasi daerah (Orda) khusus santri ada di beberapa pesantren Mranggen.

Gairah dirinya untuk terus menggali ilmu agama tidak pupus. Gus Misbah pun melanjutkan pengembaraannya dengan tabarrukan (mencari berkah) di Ponpes Darut Tauhid Senori Tuban dibawah asuhan KH. Nasirudin Qodir yang merupakan murid KH. Maimoen Zubair (Mbah Moen) Sarang, selanjutnya ia nyantri di Taman Pendidikan Raudlatut Tholibin Leteh Rembang yang diasuh eh KH. Musthofa Bisri (Gus Mus) serta beberapa pesantren lain. “Alhamdulillah diberi kesempatan nikmatnya nyantri,” tuturnya.

Selain nyantri, ia juga masih memanfaatkan waktu untuk belajar di Fakultas Ushuluddin jurusan Tasawwuf dan Psikotherapi Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Walisongo Semarang. Di kampus yang saat ini menjadi universitas (UIN) ini, ia dinyatakan lulus pada tahun 2007.

Kader NU Tulen
Gus Misbah merupakan anak ketiga dari delapan bersaudara. Ayahnya KH. Chumaidi Umar dan Hj. Muslichah merupakan santri NU yang memegang tradisi memondokkan anak. Putra pertamanya Muhammad Mustain, dan Ahmad Mujib yang kedua merupakan ustadz di Ponpes Futuhiyyah semasa Gus Misbah nyantri di pesantren tersebut. Gus Misbah memiliki adik santri penghafal Al-Qur’an antara lain Maftuhatun Ni’mah AH, Hikmah Ulwiyah, AH. Nurul Khotimah, AH. Nihayatun Maimunah, AH dan Muhammad Husnul Aqib.

Gus Misbah merupakan kader NU tulen. Bukan hanya secara ideologis dan kultur saja, lebih dari itu juga mengikuti kaderisasi formal. Masa Kesetiaan Anggota (Makesta) Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) sebagai kaderisasi formal pertama telah ditempuh semasa di bangku MTs. Namun tak dinyana, ia kembali melanjutkan kaderisasinya setelah lulus dari pesantren.

Tahun 2004 ia mulai menempa dunia organisasi IPNU di desanya. Menurutnya hal ini karena terdorong rasa tanggung jawab atas keberlanjutan kaderisasi NU. Karena itu langkah pertama belajar organisasi ditempuh dari IPNU. Atas ketekunannya, ia sempat didaulat sebagai sekretaris PAC IPNU Kecamatan Patebon.

Sebagai pemuda yang kritis, ia pun masuk di Lembaga Informasi dan Kajian Strategis (2011-2015). Tekun dan ikhlas di Ansor, kuat dan mengemban amanah organisasi dengam baik, karenanya ia mendapat kepercayaan sebagai sekretaris dan mengantarkannya sebagai ketua PC GP Ansor Kabupaten Kendal pada konferensi cabang (Konfercab) 2020. Ia terpilih secara aklamasi untuk periodisasi kepemimpinan tahun 2020-2024.

Semasa di pesantren Misbah sudah menggemari interaksi sosial dia dikenal teman teman sebagai santri gaul, karena banyak teman dan aktif dalam kegiatan kegiatan intra maupun ekstra seperti Organisasi Daerah Kesik (Keluarga Santri Indonesia Kendal).

Siapa sangka Gus Misbah yang kalem ternyata menyukai musik bergenre metal atau cadas dan termasuk familiar di komunitas Slanker karena dia juga sempat menjadi Slankers Fans Club. Menurutnya syair dan lagu lagu Slank sangat menginspirasi dirinya karena membawa misi idealisme dan berbobot dalam bersikap melawan penindasan. Style yang cenderung bebas merdeka yang membuat Gus Misbah terlihat beda dengan saudara saudaranya. (firdaus)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini